Asosiasi akan Atur Bunga Pinjaman Perusahaan Fintech
Illustrasi Fintech (Dok: AFP).
Jakarta: Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) akan mengatur bunga pinjaman yang akan diberikan oleh perusahaan financial technology (fintech). Besaran bunga ini dipatok agar tak membebani konsumen.

"Kami akan atur besaran bunga yang diberikan agar tak membebani konsumen," kata Direktur Eksekutif Komunitas dan Komunikasi Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Vivi Coster kepada Medcom.id, Kamis, 3 Mei 2018.

Vivi menambahkan bahwa besaran bunga ini diatur supaya tak membuat konsumen jera ketika meminjam di fintech. Selama ini memang diakuinya ada 'predator' yang memberikan bunga besar kepada konsumen dan ini yang akan diatur melalui peraturan etik.

"Akan ada peraturan etiknya, nanti berapa besaran bunga ideal serta ketentuan lainnya yang diatur dalam kode etik dalam kesepakatan bersama supaya tak ada 'predator'," kata dia.

Vivi menegaskan bahwa fintech yang tak mematuhi kode etik ini akan dikeluarkan dari keanggotaan dan dicabut sertifikasinya yang diberikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dia menegaskan bahwa ini berlaku untuk perusahaan yang sudah mendapatkan sertifikasi dari OJK.

"Yang sudah akan ditarik jika bunganya di atas ketentuan. Mereka harus menurunkan bunganya jika ingin mendapatkan sertifikasi dari OJK," jelas dia.

Lalu kapan aturan ini dikeluarkan? Dia hanya mengatakan bahwa aturan ini akan keluar pada bulan ini. Dia berharap aturan ini akan bisa disosialisasikan pada akhir Mei. "Semoga keluar akhir bulan ini, lagi digodok," pungkas dia.

OJK Tak Mengatur

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan tidak akan mengatur suku bunga yang telah ditetapkan oleh pelaku fintech. Meski sudah ada beberapa fintech yang menetapkan suku bunga sebesar satu persen per hari untuk pinjaman pertama. bunga itu dinilai sangat besar bila waktu pinjaman berlangsung dalam waktu yang cukup lama.

Deputi Dewan Komisioner Industri Keuangan Nonbank OJK Edy Setiadi menyatakan OJK akan mengembalikan hal pengenaan suku bunga ke mekanisme pasar para pelaku fintech.‎ Sebab, fintech sudah tergabung dalam asosiasi.

Edi pun menilai wajar jika OJK mengembalikan kembali keputusan soal suku bunga ke asosiasi yang menaungi fintech tersebut.‎ Karena, mereka yang mengerti semua aturannya. "Nantinya biar masyarakat yang menilai. Jika dirasa besar, tentu dia bisa memilih," ungkap Edy.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id