Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro. (FOTO: dok MI)
Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro. (FOTO: dok MI)

Gas Tabung Tak Boleh Digunakan di Ibu Kota Baru

Ekonomi pemindahan ibukota bappenas
Ilham wibowo • 10 Juli 2019 14:52
Jakarta: Wilayah yang akan dijadikan ibu kota baru bagi Indonesia bakal dibangun dengan konsep modern sebagai kawasan green energy atau energi ramah lingkungan. Proses pembangunan awal rencananya dilakukan pada 2021.
 
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan desain infrastruktur dasar bakal mengakomodasi potensi kemampuan anak bangsa. Pengerjaan konstruksi pada lahan kosong di wilayah Kalimantan itu pun bakal dilakukan detail seperti penerapan jaringan gas kota.
 
"Di ibu kota baru ini tidak boleh lagi pakai LPG tapi dengan jaringan gas kota yang dibangun dari awal," kata Bambang dalam diskusi FMB9 bertema 'Pindah Ibukota Negara: Belajar dari Pengalaman Negara Sahabat' di R. Rapat Benny S. Mulyana, Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Rabu, 10 Juli 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kawasan ibu kota baru juga didesain untuk agar penduduk yang tinggal bisa menikmati jaringan air bersih yang layak konsumsi. Konsep hunian pun yang tidak diperkenankan menggali sumur secara pribadi dilakukan agar tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup.
 
"Kita tidak ingin ada rumah ada sumurnya, kita ingin setiap rumah terkoneksi dengan PDAM sehingga water supply tidak jadi masalah dan ornag bisa menikmati air yang berkualitas," tuturnya.
 
Perencanaan pembangunan juga menyangkut masalah gas buang yang dihasilkan dari kendaraan bermotor. Bahan bakar kendaraan yang digunakan di ibu kita baru nantinya mesti menunggunakan energi terbarukan.
 
"Di sana kita ingin forest city yang energinya terbarukan dan tidak boleh lagi hanya sekadarnya," ungkapnya.
 
Lebih lanjut negara sahabat yang telah sukses memindahkan ibu kotanya bakal dijadikan pelajaran penting untuk membangun konsep serupa di Indonesia. Seperti Brasil misalnya, kawasan Brasilia yang semula hutan belantara telah berkembang menjadi kota tiga juta penduduk dengan pendapatan terbesar.
 
"Kita ingin pertumbuhan dan perkembangan kota lebih terkendali dari kota kecil berkembang lebih besar. Intinya kita ingin bangun kota yang liveable yang nyaman dan aman bagi penghuninya," ujar Bambang.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif