Ilustrasi. Foto: Medcom.id.
Ilustrasi. Foto: Medcom.id.

Mengintip Cara Dompet Digital 'Bakar' Uang

Ekonomi ekonomi digital
Desi Angriani • 07 Desember 2019 06:36
Jakarta: Strategi bakar uang tampak lazim bagi perusahaan pembayaran digital di Tanah Air. Subsidi pasar tersebut terbukti ampuh menggaet konsumen.
 
Misalnya, GoPay memberikan diskon 30 persen untuk sejumlah merchant. Sementara Dana dan LinkAja memberi potongan harga 50 persen atau lebih besar dari GoPay. Kemudian OVO menawarkan berbagai cashback dalam setiap pembelian melalui e-wallet tersebut.
 
Pantas saja, penetrasi transaksi nontunai di Indonesia terus meningkat meski baru mencapai angka tujuh persen. Sayangnya, konsumen menjadi tidak loyal terhadap satu dompet elektronik. Mereka mengunduh banyak e-wallet sekaligus demi meraih potongan harga atau cashback paling besar.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pola banting subsidi ini lambat laun akan membuat perusahaan teknologi finansial merugi. Tak heran Lippo Group akhirnya melepas sebagian besar saham OVO lantaran tak kuat mendanai praktik bakar uang tersebut.
 
Lantas bagaimana cara dompet digital selama ini membakar modal sembari tetap meraih untung. Semula diskon diberikan secara cuma-cuma bagi pengguna masing-masing e-wallet di berbagai merchant. Kemudian potongan harga berlanjut dengan syarat minimun pembelian.
 
Lebih lanjut, pemberian diskon dijual dalam bentuk voucher. Contoh, GoPay menawarkan paket nonton GoPlay satu bulan plus 60 voucher GoFood masing-masing Rp10 ribu dengan harga Rp99 ribu. Sementara OVO menawarkan voucher diskon GrabRide sebesar Rp5.000 untuk lima kali perjalanan dengan harga Rp10 ribu.
 
Lambat laun GoPay dan OVO tak hanya merambah pesan-antar makanan dan transportasi publik. Namun juga membuka akses terhadap pembelian tiket bioskop, pembayaran e-commerce, logistik, pengisian pulsa, tagihan bulanan, penarikan tunai hingga Google Play Store.
 
Perluasaan pasar tersebut berimbas pada besarnya transaksi dan dana yang mengendap di bank. Perusahaan pembayaran digital pun akhirnya memperoleh bunga dan special rate dalam jumlah yang lebih besar.
 
Namun, siasat tersebut masih belum mampu mengembalikan modal besar yang selama ini dihabiskan oleh perusahaan maupun investor. Ovo pun berencana mengurangi strategi bakar uang dengan mendorong layanan keuangan pada tahun depan.
 
Ia berencana meningkatkan pertumbuhan pinjaman, merealisasikan Bareksa sebagai media investasi digital (e-investasi) serta mengembangkan produk asuransi.
 
"Sebagian besar akan berfokus pada pedagang dan beberapa pada pinjaman konsumen," kata CEO OVO Jason Thompson dikutip Kr-Asia, Rabu, 4 Desember 2019.
 
Saat ini, OVO telah merambah layanan untuk peminjaman, seperti pinjaman konsumen dengan Tokopedia melalui fitur PayLater. Kemudian OVO-Dana-Tara, pinjaman modal khusus untuk pedagang kami, dan Ovo Talangan Siaga, hingga pinjaman jangka pendek khusus untuk mitra dan agen Grab.
 
"Ini adalah campuran dari pedagang dan agen pinjaman konsumen, dan kami akan skala ini tahun depan," terangnya.
 
Sementara itu, Executive Director Asosiasi Fintech (AFTECH) Tasa Barley menyatakan promosi diskon dan cashback digunakan untuk mendorong penggunaan transaksi nontunai dalam masyarakat.
 
Cara ini telah diterapkan oleh perusahaan penerbit kartu kredit jauh sebelum penyelenggara fintech sistem pembayaran. Cara tersebut juga dilakukan untuk mendorong perubahan gaya hidup konsumen dari cash-based ke cashless sejalan dengan Gerakan Nasional Non-Tunai yang digagas oleh pemerintah dan Bank Indonesia.
 
"Promosi diskon dan cashback merupakan investasi yang dibutuhkan saat ini untuk mengedukasi konsumen, meningkatkan kepercayaan mereka, serta mendorong perkembangan ekosistem fintech sistem pembayaran terutama bagi merchants dan konsumen," tuturnya saat dihubungi Medcom.id, Jumat, 6 Desember 2019.

Dompet Digital Bisa Gulung Tikar

Indonesia disebut negara tertinggi dalam praktik bakar duit dompet elektronik. Praktik tersebut dinilai tidak sehat lantaran berpotensi membuat perusahaan pembayaran digital menjadi gulung tikar.
 
Bahkan startup asal Amerika Serikat (AS), WeWork batal melantai di bursa saham (initial public offering/IPO) karena diisukan merugi. WeWork menghabiskan USD700 juta atau setara Rp9,8 triliun per kuartal untuk promosi atau bakar uang.
 
Sementara di Indonesia, LIPPO Group sebagai investor utama OVO mulai menjual dua per tiga saham perusahaan dompet digital tersebut lantaran tidak kuat memasok dana.
 
"Bukan melepas, kami menjual sebagian. Sekarang (saham) kami mungkin tinggal 30 persen. Dua pertiganya kami jual," kata pendiri sekaligus pemilik Lippo Group, Mochtar Riady, dalam acara Indonesia Digital Conference 2019 di Jakarta.
 
Ekonom Indef Bhima Yudhistira menyebut untuk bertahan di pasar, penyelenggara uang elektronik tak boleh lagi mengandalkan investasi. Pasalnya, para investor bisa saja kabur mengingat kondisi ekonomi tahun depan masih dihantui oleh ketidakpastian global.
 
Karena itu, dompet digital dalam negeri harus mampu membaca kebutuhan masyarakat dengan menciptakan berbagai inovasi serta merambah layanan keuangan lainnya.
 
"Indonesia ini adalah negara nomor satu paling tinggi bakar uangnya di Asia Tenggara dan ini enggak normal," ungkap Bhima saat ditemui Medcom.id di Mercantile Athletic Club WTC 1, Jakarta, Jumat, 6 Desember 2019.
 
Adapun GoPay menjadi aplikasi e-wallet dengan pengguna aktif terbanyak di Indonesia. Sebanyak 30 persen dari total transaksi uang elektronik di Indonesia berasal dari GoPay. GoPay tercatat berhasil menyentuh angka transaksi sebesar USD6,3 miliar dengan total 70 persen didapatkan dari transaksi Gojek.
 
Sementara Ovo berhasil menduduki peringkat kedua berdasarkan jumlah download aplikasi di kuartal II-2019. Kemudian Dana berhasil naik satu peringkat di kuartal II-2019, menggantikan LinkAja di posisi ketiga.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif