Ilustrasi. FOTO: dok MI/Panca Syurkani.
Ilustrasi. FOTO: dok MI/Panca Syurkani.

Yasin Limpo: Cuaca Panas Masihkah Ada Panen?

Ekonomi kementerian pertanian kemarau dan kekeringan
Ilham wibowo • 25 Oktober 2019 23:17
Jakarta: Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo ingin memastikan hasil panen pangan nasional bisa didapat meskipun Indonesia masih dilanda musim kemarau yang cukup panjang. Pendataan akurat pun perlu dilakukan dengan memaksimalkan potensi pemanfaatan teknologi.
 
"Dengan kemarau yang sangat panas, dengan cuaca labil seperti ini, masihkah ada panen itu?" kata Syahrul ditemui di kantor Kementan, Jakarta, Jumat, 25 Oktober 2019.
 
Mantan Gubernur Sulawesi Selatan ini mengatakan pangan yang dikonsumsi ratusan juta rakyat Indonesia hasil tanamannya bergantung dari arahan yang tepat dari Kementan. Pejabat di lembaga yang mengurusi pertanian dan peternakan itu pun diminta memastikan betul stok nasional tersedia untuk jangka pendek dan jangka menengah.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Aku mau lihat sekarang sehingga jelas bahwa tiga bulan ke depan, lima bulan ke depan, enam bulan ke depan satu tahun ke depan masalah perutnya rakyat 270 juta orang Indonesia dijamin oleh kita," ujarnya.
 
Pemenuhan stok pangan dengan memaksimalkan hasil panen petani lokal bakal jadi fokus utama dalam 100 hari kerja mendatang. Syahrul meminta pejabat Kementan siaga penuh.
 
"Mulai sekarang sampai 100 hari tidak boleh ada (pejabat Kementan) yang tidur nyenyak," tegasnya.
 
Syahrul mengaku tak terbiasa bekerja dengan dengan cara yang baku sebagai pejabat birokrasi. Penyelesaian masalah bisa dilakukan di mana saja dan dengan siapa saja yang memiliki terobosan terbaik untuk pangan Indonesia.
 
"Makanya saya bilang Pak Amran jangan jauh-jauh dulu, jangan pulang kampung dulu, bantu saya. Bulog juga tolong bantu saya," tuturnya.
 
Dalam 100 hari kerja itu, Syahrul juga bakal membenahi masalah data pangan yang implemetasinya masih menuai kendala. Dia bilang, data tunggal dari Badan Pusat Statistik (BPS) bakal menjadi acuan dengan diimbangi survei langsung di lapangan.
 
"100 hari kita harap dengan BPS yang akan lakukan single data nasional, jangan ada yang confused dengan data itu. Aku ini bekas orang lapangan jadi biasa BPS ambil ubinan di tempat sendiri Kementan ambil ubinan di tempat sendiri, ubinan itu contoh dari ukuran masing-masing," paparnya.
 
Pendataan potensi pertanian untuk berbagai komoditas juga akan dilakukan melalui pemanfaatan citra satelit. Sehingga, wilayah yang telah lebih dahulu mendapatkan hujan lalu hasil panennya akan mengisi wilayah yang masih kekeringan.
 
"Pertanian bukan padi aja, ada perkebunan dan peternakan semua harus dimudahkan pencitraan satelit. Ini akan jadi data BPS tapi yang telah diklarifikasi semua departemen, jangan ada data Kementan lagi," ungkapnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif