Pupuk Indonesia Catat Total Ekspor Rp24,8 Triliun

27 November 2018 03:37 WIB
pupuk indonesia
Pupuk Indonesia Catat Total Ekspor Rp24,8 Triliun
Suasana kawasan pabrik PT Pupuk Kaltim di Bontang, Kalimantan Timur. Foto: Antara/Jessica Helena Wuysang.
Jakarta: Kontribusi PT Pupuk Indonesia (Persero) terhadap devisa negara melalui ekspor terus mengalami peningkatan selama empat tahun terakhir. Sejak 2015 hingga Oktober 2018, total penjualan ekspor produk pupuk dan amoniak Pupuk Indonesia mencapai sebanyak 6,67 juta ton dengan nilai penjualan produk pupuk hingga USD985 juta.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Aas Asikin Idat menambahkan, ekspor produk pupuk maupun non pupuk selama 2015 hingga Oktober 2018 sebesar 6,67 juta ton dengan nilai Rp24,8 triliun. Sementara dari awal tahun hingga Oktober 2018, Pupuk Indonesia sudah menyumbang Rp6,31 triliun dari ekspor produk pupuk maupun non pupuk.

"Pupuk Indonesia akan terus memacu penjualan ekspor untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dengan menyumbang devisa negara dan kembali memperkuat nilai rupiah dengan tetap mengutamakan pemenuhan pupuk dalam negeri," ujar Aas dalam keterangan tertulis, Jakarta, Senin, 26 November 2018.

Menurutnya, capaian tersebut tak lepas dari upaya peningkatan daya saing produk melalui berbagai efisiensi dalam menekan biaya produksi. Di sisi lain, kebijakan penurunan harga gas juga memberikan pengaruh positif pada peningkatan daya saing produk pupuk dan non pupuk di pasar internasional.

Selain upaya efisiensi, lanjut Aas, kenaikan ekspor produk-produk Pupuk Indonesia juga didukung oleh membaiknya daya saing perusahaan, meningkatnya harga urea dan amoniak global, serta penguatan jaringan ekspor dan kegiatan misi dagang di pasar internasional.

Adapun penjualan terbesar produk Pupuk Indonesia didominasi negara-Negara Asia seperti Filipina, Vietnam, Jepang, India, Thailand, Taiwan, Malaysia dan Tiongkok. Selain itu, Australia, Kosta Rica, Yordania, Amerika Serikat, dan Afrika Selatan masih menjadi tujuan ekspor dengan permintaan yang cukup besar untuk produk urea, NPK, dan amoniak.

Namun dengan berbagai upaya peningkatan ekspor, Pupuk Indonesia tidak meninggalkan tanggung jawabnya untuk memenuhi kebutuhan pupuk dalam negeri. "Kami hanya melakukan ekspor jika kebutuhan dan stok dalam negeri sudah benar-benar terpenuhi," tegas Aas.

Selama empat tahun terakhir, Pupuk Indonesia telah memenuhi kebutuhan pupuk untuk sektor subsidi sebanyak 34,77 juta ton. Penyaluran pupuk subsidi terdiri dari 15,09 juta ton urea, 3,25 juta ton SP36, 3,76 juta ton ZA, 9,91 juta ton NPK, dan 2,74 juta ton organik. Pada 2018, Pupuk Indonesia menargetkan penyaluran pupuk subsidi mencapai 9,46 juta ton.

Tidak hanya penyaluran pupuk ke sektor subsidi, penjualan pupuk non subsidi dalam negeri pun terus mengalami peningkatan dari 2015 hingga 2018. Selama empat tahun terakhir penjualan produk pupuk dalam negeri sebesar 7,34 juta ton dan amoniak sebanyak 1,04 juta ton.

"Tren penjualan pupuk non subsidi dalam negeri juga semakin meningkat selama empat tahun terakhir. Pasar terbesar masih didominasi oleh industri perkebunan kelapa sawit, karet, dan tebu," Jelas Aas.  

Untuk memastikan ketersediaan pasokan pupuk dalam negeri, Pupuk Indonesia terus berkoordinasi dengan anak usaha untuk mengoptimalisasi proses penyaluran pupuk. "Terutama dari lini 2 ke 3 dan ke lini 4 atau distributor," tutup Aas.



(HUS)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id