Illustrasi. Dok : AFP.
Illustrasi. Dok : AFP.

Pemindahan Ibu Kota Bisa Terlaksana di Periode Pemerintahan Jokowi

Ekonomi pemindahan ibukota
Ilham wibowo • 10 Juli 2019 15:48
Jakarta: Pemindahan ibu kota negara sebagai pusat pemerintahan Indonesia diyakini bisa rampung dalam satu periode pemerintahan. Realisasi pengerjaan pun dianggap bisa lebih cepat lantaran belajar dari banyak negara yang telah sukses melakukannya.
 
Duta Besar LBBP RI untuk Brasil periode 2010-2015 Sudaryomo Hartosudarmo mengatakan Brasil bisa merealisasikan pemindahan ibu kota dari Rio de Jenerio ke Brasilia selama era pemerintahan Presiden Brasil 1956-1961 Juscelino Kubitschek de Oliveira. Kala itu, Brasil memiliki konsep dalam pemerataan ekonomi ke wilayah lain.
 
"Brasilia adalah kota yang direncanakan sangat baik dan dapat diwujudkan dalam satu pemerintahan Presiden Kubitschek," kata Sudaryomo dalam diskusi FMB9 bertema 'Pindah Ibukota Negara: Belajar dari Pengalaman Negara Sahabat' di R. Rapat Benny S. Mulyana, Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Rabu, 10 Juli 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sudaryomo meyakini upaya serupa juga bisa dilakukan di era pemerintahan Presiden Joko Widodo yang berencana memindahkan ibu kota ke wilayah di Pulau Kalimantan. Realisasi jangka pendek diyakini bakal terwujud lantaran memiliki semangat yang besar sejak dari pendiri bangsa.
 
"Ini keajaiban yang bisa terjadi di Indonesia, satu pemerintahan dan pemindahan ibu kota bisa dilakukan. Mimpi menjadi nyata dalam 2.000 hari pemindahan ibu kota bisa terwujud," ungkapnya.
 
Ide pemindahan ibu kota yang dilakukan Brasil mirip dengan upaya pemerataan ekonomi Pemerintah Indonesia sebagai negara kepulauan. Saat ini, Pulau Jawa paling mendominasi pertumbuhan dan pendapatan ekonomi nasional. Jakarta sebagai ibu kota pun menanggung beban berat dengan berperan sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan.
 
Menurut Sudaryomo, dampak yang paling terasa dalam pemindahan ibu kota di Brasil yakni berkembangnya 20 kota satelit di sekitar Brasilia. Bahkan, wilayah yang semula hutan belantara di pedalaman Amazon itu menjadi kota terbesar keempat setelah Rio de Janeiro, Sao Paolo dan Salvador dengan pendapatan per kapita tertinggi di Brasil.
 
"Kalau mau belajar dari Brasil, memang pemindahan ibu kota ke satu tempat ini berdampak tumbuhnya sentral ekonomi baru," tuturnya.
 
Lebih lanjut, ia menuturkan konsep pembangunan yang dilakukan di Brasilia telah dirancang dari nol untuk bisa menata wilayah yang lebih baik. Selain itu, kenyamanan tinggal yang diwujudkan dilakukan seperti di Brasilia bakal menjadi daya tarik tersendiri bagi hadirnya investasi.
 
"Saya kira kita butuh karakteristik kota yang egalitar dalam kenyamanan. Banyak kesamaan memang secara ekonomi tapi yang menarik adalah Brasil maupun Indonesia sebagai multi ethnic countries," ucapnya.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif