Illustrasi. MI/RAMDANI.
Illustrasi. MI/RAMDANI.

BEI Temukan Kejanggalan Laporan Keuangan Garuda di Kuartal I-2019

Ekonomi garuda indonesia
Annisa ayu artanti • 18 Juni 2019 14:57
Jakarta: Bursa Efek Indonesia (BEI) menemukan kembali kejanggalan laporan keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Hal tersebut disampaikan Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna. Nyoman mengatakan selain memeriksa laporan keuangan tahun buku 2018, bursa juga memeriksa laporan keuangan kuartal I-2019.
 
"Triwulan I-2019 sudah menjadi bagian tidak terpisah dari yang audited. Iya karena menjadi bagian yang tidak terpisah. Jadi yang kita sampaikan, yang audited 2018 sama triwulan I-2019 itu menjadi bagian yang tidak terpisah," kata Nyoman di Gedung BEI, Jakarta, Selasa, 18 Juni 2019.
 
Pada laporan keuangan tahunan tahun buku 2018 terdapat transaksi kerja sama Garuda Indonesia dengan PT Mahata Aero Teknologi yang dianggap sebagai pendapatan senilai USD239 juta sehingga dicatatkan sebagai pendukung laba.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nyoman menjelaskan dalam laporan keuangan 2018 itu transaksi kerja sama antara perusahaan dengan Mahata diakui sebagai initial recognation atau pengakuan awal. Namun setelah disinkronkan dengan laporan keuangan kuartal I-2019, transaksi tersebut tidak mencerminkan laporan keuangan kuartal I-2019.
 
Seharusnya angka piutang terhadap Mahata pada kuartal I-2019 berkurang, tetapi pada kuartal I-2019 tidak berkurang sama sekali atau tetap.
 
"Perjanjiannya kan di Oktober, laporan keuangan yang di-submit itu Desember. Desember itu akan memperlihatkan sebetulnya revenue sampai pada periode tersebut berapa. Kalau pada saat mereka menyampaikan, kan mereka sudah akui tuh di-intial recognitaion itu penuh, di mana dia tidak mempertimbangkan yang 15 tahun kontraknya. Itu initial reciogntaion," tutur Nyoman.
 
"Kemudian dia catat juga sebagai piutang. Tidak ada cash kan, di triwulan I-2019 itu masih tercatat piutangnya. Sedangkan di perjanjian Oktober, harusnya bentuknya sudah dalam bentuk cash," jelas Nyoman.
 
Dia menjelaskan bawa, berdasarkan temuan tersebut, bursa mempertanyakan tingkat kolektibilitas kerja sama dua perusahaan tersebut
 
"Kami juga melakukan pengujian terhadap tingkat colectibilty dari aset yang dia punya berupa piutang, kan ini dicatat sebagai piutang. Di perjanjian dikatakan bahwa, cash wajib diterima di bulan Oktober. Sampai saat ini dan tentunya di triwulan I-2019 juga yang disampaikan April belum ada. Sehingga kami mempertanyakan," tukas Nyoman.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif