Industri Pariwisata Penentu Masa Depan Ekonomi Indonesia

Ilham wibowo 07 Agustus 2018 16:13 WIB
pariwisata
Industri Pariwisata Penentu Masa Depan Ekonomi Indonesia
Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Aviliani. Medcom/Ilham Wibowo.
Jakarta: Pertumbuhan ekonomi Tanah Air lima tahun mendatang dinilai perlu diarahkan pada sektor potensial baru. Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Aviliani menyebut sektor pariwisata dan ekspor pangan bakal menghasilkan banyak devisa selain sawit dan batu bara.

"Yang penting kan devisa, menurut saya pariwisata belum digarap. Sekarang bayak (wisatawan) cuma domestik tapi sebenarnya dari Asia paling tinggi muncul di sini," ujar Aviliani dalam Seminar bertajuk 'Menentukan Nasib Jangka Panjang Ekonomi Indonesia' di Hotel Mandarin, Jakarta, Selasa, 7 Agustus 2018.

Pasar pariwisata Indonesia saat ini cenderung masih digarap masing-masing sektoral seperti sisi transportasi maupun akomodasi. Mestinya, kata dia, seluruh aspek strategis dikolaborasikan baik swasta maupun bersama pemerintah untuk satu tujuan mendatangkan turis.

"Jadi ini harus membentuk tim untuk bisa mendatangkan wisatawan dan dari situ devisa besar sekali," ujar Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) ini.

Industri berbasis pangan halal juga potensial untuk dikembangkan di Tanah Air. Aviliani meyakini Indonesia berpeluang besar bersaing sebagai kompetitor baru. Saat ini, ekspor tertinggi kebutuhan pangan itu masih dipegang oleh Thailand.

"Industri berbasis pangan yang halal sebearnya besar. Sekarang eksport tertinggi di Thailand, kita juga bisa," tuturnya.

Pertumbuhan ekonomi juga tak mesti dengan indikator melakukan ekspor barang. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan barang dalam negeri juga dinilai bakal menambah devisa negara dengan mengurangi kebutuhan impor.

"Pengurangan impor terutama sektor farmasi. Saya lihat 95 persen kebutuhannya masih gunakan bahan impor kenapa tidak gunakan herbal seperti di Tiongkok sebagai eksportir herbal terbesar, kita pun bisa," paparnya.

Ia menambahkan, insentif kepada pelaku usaha juga perlu diberikan secara tepat sasaran. Kebijakan pemerintah, kata dia, mestinya diberikan kepada maksimal empat industri yang fokus untuk melakukan ekspor besar.

"Jangan terlalu banyak kasih insentif ke seluruh industri, kasih saya ke tiga atau empat industri yang mampu meningkatkan ekspor dan menurunkan impor," tandasnya.


 



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id