Menko Perekonomian Darmin Nasution. (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)
Menko Perekonomian Darmin Nasution. (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)

Perjanjian IA-CEPA Tak Bikin RI Kebanjiran Produk Australia

Ekonomi indonesia-australia ekspor-impor
Eko Nordiansyah • 11 Maret 2019 13:15
Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memastikan perjanjian Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) tidak akan membuat produk Australia membanjiri Indonesia. Pemerintah akan tetap membuat batasan untuk produk tertentu.
 
Salah satu yang menjadi perhatian pemerintah adalah soal impor sapi Australia. Dengan perjanjian ini dikhawatirkan sapi asal Australia akan lebih mudah masuk ke Indonesia, karena tarifnya yang dihilangkan.
 
"Sampai jumlah tertentu (bebas bea masuk). Begitu dia lebih dari segitu kena dia (bea masuk)," kata Darmin ditemui di Ritz Carlton, Pacific Place, SCBD, Jakarta, Senin, 11 Maret 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dirinya menambahkan aturan pembatasan tersebut diatur oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag). Langkah ini dipercaya akan membuat kerja sama antara Indonesia dengan Australia tetap menguntungkan.
 
"Itu yang paling lama diperdebatkan. Dia minta berapa, kita ngotot berapa, ya jadi enggak akan kemudian berlebih-lebihan karena begitu lebih dari jumlah itu kena bea masuk," jelas dia.
 
Baca juga: Perjanjian IA-CEPA Hapus 100% Tarif Indonesia
 
Perjanjian IA-CEPA diyakini dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan kapasitas ekonomi dan sumber daya manusia. Perjanjian ini akan menghilangkan 100 persen tarif Indonesia dan 94 persen tarif Australia secara bertahap.
 
"Ada sektor industri utama yang akan mendapatkan keuntungan dari penghapusan tarif ini termasuk otomotif, tekstil, alas kaki, agribisnis, makanan, minuman, dan furnitur," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita beberapa waktu lalu.
 
Perjanjian ini juga memasukkan ketentuan tentang langkah-langkah non-tarif termasuk sanitasi, fitosanitasi, dan hambatan teknis untuk perdagangan, serta prosedur fasilitasi perdagangan dan bea cukai yang akan memastikan lingkungan ekonomi lebih kuat dan transparan.
 
"Dengan ini perlindungan investasi menjadi lebih kuat, serta memungkinkan aliran investasi langsung asing yang lebih besar terutama untuk sektor seperti pertambangan, energi, besi dan baja, keuangan, dan pendidikan kejuruan," jelasnya.
 
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sebelumnya menjelaskanIA-CEPA bukan Free Trade Agreement (FTA) biasa. Kemitraan komprehensif ini tidak hanya menegosiasikan akses pasar, tetapi juga mencakup bagaimana kedua negara bisa menciptakan kekuatan ekonomi baru di kawasan.
 
"Negosiasi pertama kali diluncurkan pada akhir 2010. Setelah menyelesaikan 12 putaran negosiasi dan sejumlah pertemuan hampir selama sembilan tahun, akhirnya perjanjian ini ditandatangani," ujar Enggar, di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin, 4 Maret 2019.
 
Australia sebagai negara maju merupakan mitra strategis yang dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan kapasitas ekonomi dan sumber daya manusia. Perjanjian ini akan menghilangkan 100 persen tarif Indonesia dan 94 persen tarif Australia secara bertahap.

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif