Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas). MI/Ramdani.
Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas). MI/Ramdani.

Budi Waseso Menjaga Marwah Peran Bulog

Ekonomi bulog
Arif Wicaksono • 25 Agustus 2019 21:44
Jakarta: Perum Bulog punya berbagai cara untuk menjaga marwahnya sebagai penjaga kestabilan pangan di negeri ini. Di tangan komando Budi Waseso, Bulog memiliki berbagai ambisi seperti melakukan ekspor beras, memberantas mafia pangan hingga membesarkan merek beras premium ke rakyat.
 
Dalam wawancaranya dengan Medcom.id beberapa waktu lalu, Buwas, sapaan akrabnya, sebagai Direktur Utama Bulog, menjelaskan berbagai strategi untuk melaksanakan hal di atas. Strategi ini tak lain untuk membuat Bulog menjadi lembaga yang terbebas dari kepentingan segelintir kelompok. "Bulog harus berpihak kepada rakyat," begitulah kata Buwas mengawali wawancaranya. Berikut petikannya:
 
Bagaimana strategi Bulog untuk menjaga stok beras?
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kita ada sistem pengawasan, setiap tiga bulan itu kita rawat. Kita lakukan fumigasi untuk mengecek kalau ada kutu kita matikan dengan teknologi itu.
 
Hal itu menjamin kualitas beras akan lebih baik. Seandainya ada tekanan, maka ada skema rice to rice. Setelah kita tarik beras yang ada, kita masukkan dia ke dalam mesin sehingga jadi terpisah (yang benar dan rusak). Hal ini akan menghancurkan beras yang terlalu lama mengendap. Jadi terpisah.
 
Jadi potensi beras yang rusak semakin kecil?
 
Oh enggak..ada yang rusak 2.000 ton sudah dikarantina. Sudah ada keputusannya dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bisa dimusnahkan.
 
Kalau sistem di Bulog, ini di gudang diawasi tim secara terus menerus. Kalau yang kualitas rendah enggak bertahan lama, nanti akan kita sisihkan. Karena itu nanti bisa berubah menjadi bau dan dipenuhi kutu-kutu.
 
Bagaimana dengan harga pokok produsen (HPP) Perpres yang lebih rendah dari harga pasaran, apa langkah Bulog?
 
Bulog membeli beras di atas HPP untuk beras komersial. Kalau CBP kita terikat. Maka kita tetap berpihak kepada petani, kita tetap beli beras saat panen raya. Bilamana harga turun kita beli di HPP. HPP Rp4.020 per kilogram (kg), umpama harga Rp3.800 per kg di pasar, kita beli diharga HPP. Kita jadikan cadangan beras pemerintah.
 
Kita menyerap beras supaya menjadi CBP dan simpen. Kalau harga d iatas maka kita beli beras di pasar dan kita ikut. Sementara itu sebagian beras dijual dengan harga komersial.
 
Sempat ada kabar HPP akan naik, bagaimana menurut Bapak?
 
Ya memang. Semua tergantung pemerintah karena ini menyangkut inflasi juga karena penyumbang sebagian inflasi berasal dari beras. Selama tercukupi dari kelebihan produksi dengan harga yang didapat maka enggak masalah.
 
Bagaimana dengan progres serapan beras Bulog pada tahun ini?
 
Serapan beras sudah ada 900 ribu ton. Dulu kita enggak maksimal karena gudangnya penuh. Dulu kita mikir kalau enggak terserap buat apa? sekarang sudah ada kewajiban CBP sebesar 700 ribu ton. Jadi optimistis target serapan beras akan tercapai pada tahun ini.
 
Bagaimana peran Bulog sebagai manajer Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)?
 
BPNT itu masyarakat boleh memilih berbagai tipe beras. Tapi dia dibatasi dengan voucher senilai Rp110 ribu. Masyarakat bisa memakai Rp85 ribu untuk beli beras dan sisanya beli telur. Yang penting kualitas berasnya. Masyarakat dibebaskan kalau dia enggak butuh lauk, maka dia boleh beli beras semua.
 
Kenapa kita atur? Jangan sampai masyarakat penerima BPNT menjadi tempat permainan bisnis. Kalau sudah bisnis, maka mereka mengejar keuntungan semata.
 
Kalau dipatok harga Rp8.500 per kg (untuk semua tipe beras) maka dia (penjual) akan turunkan mutunya buat cari margin. Bulog punya standar kualitas jadi gak mungkin bermain. Kita lindungi rakyat untuk melawan mafia pangan.
 
Jadi masyarakat diberikan banyak pilihan untuk beli beras?
 
Dulu dipaksa beli. Sekarang Bulog akan menyediakan beras dari berbagai jenis. Masyarakat akan tahu kualitas beras (dengan harga yang beda-beda). Setelah itu beras tersebut akan diuiji tanah. Jadi bisa coba dulu sebelum makan. Kita siapkan beras premium juga kepada masyarakat. Kita berikan pilihan kepada masyarakat.
 
Bagaimana dengan permintaan agar Bulog menyerap jagung dari petani?
 
Tugas kita bajali (beras, jagung, kedelai). Kalau ada kelebihan stok maka kita harus melihat. Kalau beras ada penyaluran rastra dan jagung untuk kelompok peternak.
 
Kita melihat pengusaha atau peternak sudah melakukan impor sendiri. Ini masalah juga, karena sifatnya sementara. Kita menunggu adanya penugasan (jagung). Namun selama ini kebutuhan jagung sudah habis terserap untuk memenuhi kebutuhan peternak.
 
Meskipun harga naik tapi sudah terserap?
 
Karena kebutuhan ya. Tapi kalau harga naik terlalu tinggi maka kita bisa dikasih penugasan untuk impor. Tapi sekarang belum ada instruksi untuk itu. Sekarang kita masih ada stok 70 ribu ton jagung. Selama orang butuh (jagung) kita suplai dan kalau enggak kita jadikan stok. Tapi ada batas waktunya juga.
 
Bagaimana dengan komoditas cabai?
 
Saya belum mendengar mengenai cabai. Justru ini produksi pertanian sebenarnya diolah. Produksi Kementerian Pertanian (Kementan) sudah melimpah cabai, bawang, padi, dan lain-lain, nah tugas selanjutnya jangan ke Bulog atau Kementan. Bulog hanya jadi cadangan.
 
Tata niaga ini yang mengurus adalah mendag dan menperin, maka setiap ada panen pengelolaanya ke menteri koperasi, dan menteri industri untuk industri dan perdagangan untuk ekspor. Kalau itu jalan tak ada masalah.
 
Kalau hari ini Kementan bekerja sendiri dan Bulog enggak bisa menyerap dengan keterbatasan. Jadi enggak maksimal. Bebannya ada di petani. Petani tahunya hanya memproduksi. Menjual menjadi tugas pemerintah baik di dalam dan luar negeri.
 
Bagaimana kabar sembako premium dari Bulog?
 
Kita jual di pasar bebas dan tunggu pembeli. Karena pembeli kan tergantung selera dan keinginan. Kita jual dengan kualitas yang bagus dengan harga yang kompetitif.
 
Banyak yang bilang beras Bulog itu beras raskin dan mutunya rendah, banyak kutu. Itu kan image dibangun pesaing kita yang justru mutunya kurang baik. Caranya mengangkat isu negatif terhadap Bulog. Image seperti itu gampang diberitakan lewat sosial media. Bahwa Bulog itu tak baik kualitasnya jelek, dan lain-lain.
 
Sebenarnya barangnya yang dijual di pasar sama dengan kita sama. Masyarakat Cianjur jual Pandan Wangi kita jual sama dengan merek beras kita. Beras Rojolele kita juga ada.
 
Selama ini orang lihat mereknya Rojolele saja dengan kemasan beras kita. Kita tonjolkan merek beras kita. Kita ajarkan masyarakat cinta produk dalam negeri sendiri. Sebenarnya beras kita baik hanya imagenya kurang baik.
 
Bagaimana dengan mekanisme penyaluranya pak?
 
Kita sudah kerja sama dengan beberapa pihak. Mereka (toko) itu kan mencari marjin.
Marjin kita enggak bisa setinggi yang mereka mau karena kita harus lebih murah. Kita enggak bisa bisnis pure murni kalau yang lain misalnya margin Rp500 per kg kita hanya Rp200 per kg. Walaupun komersial kita tetap jaga harga supaya terjangkau.
 
Ideal Bapak, Bulog ini mau dibuat seperti apa?
 
Bulog punya peran seperti tujuan dibuatnya Bulog. Penyerapan dengan kualitas kestabilan harga bisa murah dari hulu ke hilir soal pangan tetapi sembako ini yang malah dikuasai pasar bebas. Kalau bicara pangan seharusnya tidak dikendalikan lima menteri. Kalau pemahaman menteri berbeda maka hasilnya berbeda.
 
Seyogyanya Bulog ada di bawah kendali presiden langsung bukan menteri-menteri. Atas perintah presiden kita yang menentukan sembako. Kita enggak monopoli, yang lainnya boleh.
 
Kita mengatur tentang pangan dan ketersediaannya. Kita mau mencapai ke sana dan kita enggak tahu berapa lama di Bulog. Saya buat terobosan terus, BPNT salah satu keinginan saya bahwa persoalan pangan di bawah kendali pemerintah.
 
Kalau dilepas di pasar bebas maka masyarakat penerima BPNT akan dirugikan sendiri. Tujuan Bulog di sini adalah program pemerintah sesuai dengan tujuannya. Jadi beras kualitas medium jangan dikurangi untuk mengambil keuntungan.
 
Jadi meskipun di bawah Kementerian BUMN, Bulog harus di bawah presiden idealnya?
 
Jadi ke depan kita enggak di bawah satu menteri pun. Walaupun kita perum. Kalau kita disuruh mencari keuntungan maka kecil karena kita ada beban penugasan.
 
Misalnya pengadaan beras 2,5 juta ton beras itu setara Rp20 triliun. karena perum maka uangnya pinjam, enggak pakai APBN, dengan bunga komersial untuk penugasan. Kita enggak bisa jual karena ada ketentuan-ketentuan yang diatur. Ini barang kan ada keterbatasanya.
 
Apakah penugasan Bulog dalam BPNT akan menyelesaikan masalah pangan?
 
Itu sebagian kecil saja. Karena penyaluran masih kecil dibandingkan stok Bulog. Kita akan membuka kualitas beras dengan harga kenapa enggak stabil. Nanti ada langkahnya. Saya harus hati-hati karena kita tetap bekerja sama dengan satgas mafia pangan. Meskipun saya bukan polisi, saya tetap kontak-kontakan untuk komunikasi dengan polisi. Kalau ada yang mesti digebrak kita harus lakukan.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif