Dua nelayan memasukkan ikan hasil tangkapannya ke dalam drum di Pelabuhan Muara Baru, Jakarta, Kamis (30/10/2014). Foto: Antara/Muhammad Ifdhal
Dua nelayan memasukkan ikan hasil tangkapannya ke dalam drum di Pelabuhan Muara Baru, Jakarta, Kamis (30/10/2014). Foto: Antara/Muhammad Ifdhal

Catatan Akhir Tahun Kadin di Sektor Kelautan dan Perikanan

Ekonomi kadin kelautan dan perikanan
27 Desember 2018 16:30
Jakarta: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Kelautan dan Perikanan menilai kondisi fundamental ekonomi masih berada dalam posisi terkendali. Hal ini dibuktikan dengan berbagai faktor yang memengaruhi.

"Kami melihat pertumbuhan ekonomi masih terjaga dan inflasi cukup stabil pada level yang rendah. Namun risiko yang berasal dari dinamika perekonomian perlu mendapatkan perhatian lebih besar. Indonesia juga perlu menjaga cadangan devisa serta meningkatkan ekspor," ungkap Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto, Kamis, 27 Desember 2018.

Menurut Yugi, ekspor komoditas di sektor kelautan dan perikanan dapat lebih dioptimalkan tidak hanya dilihat dari sisi nilai tambahnya. Tapi juga harus memperhatikan volume ekspornya yang masih relatif kecil.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



"Jika melihat sebagian besar komoditas perikanan, justru volume yang dihasilkan belum optimal. Padahal, kita tahu potensi kita cukup besar, namun ternyata produktivitas komoditas ekspor kita belum seperti yang kita harapkan bersama," kata dia. Yugi mengungkapkan volume ekspor di sektor kelautan dan perikanan masih didominasi oleh rumput laut yang mencapai 175 ribu ton dengan nilai USD241 juta. Sementara potensi perikanan nasional harusnya bisa lebih banyak berkontribusi terhadap kinerja ekspor nasional.

"Kami dari dunia usaha sendiri akan lebih mendorong agar sektor perikanan kita bisa berbicara lebih banyak untuk ekspor. Baik perikanan tangkap hingga budidaya, sehingga kita juga sangat berharap agar kebijakan yang ada bisa mendukung terhadap upaya ini dan target ekspor yang dicanangkan pemerintah bisa terealisasi," imbuhnya.

Sementara Ketua Dewan Penasehat Kelautan dan Perikanan Kadin Rokhmin Dahuri menjelaskan dunia usaha berharap kebijakan yang ada tidak berubah-ubah karena mempunyai efek berganda yang signifikan terhadap sektor-sektor ekonomi lainnya. Rokhmin berharap pemerintah bisa mendorong kemajuan ekonomi terfokus pada pertumbuhan dan ekspor.

"Semoga di tahun depan, kebijakan pemerintah lebih mengutamakan pendekatan konsep membangun growth (pertumbuhan ekonomi) yang inklusif serta fokus pada peningkatan nilai dan volume ekspor," kata dia.

"Sekarang dengan pertumbuhan lima persen misalnya, sejauh mana pertumbuhan itu berdampak terhadap kesejahteraan nelayan, masyarakat pesisir serta keberlangsungan usaha perikanan dan kelautan," imbuhnya.

Rokhmin mengatakan di masa mendatang masih banyak hal yang harus diperhatikan. Kondisi sekarang ini, tidak hanya pelaku usahanya saja tapi nelayan sekalipun masih menemui banyak tantangan yang dihadapi.

Seperti susahnya mendapatkan akses pembiayaan dan permodalan karena dianggap tidak bankable, selain juga  terbentur dengan peraturan-peraturan cukup memberatkan. Di samping itu, masih mahalnya sarana produksi menjadi catatan tersendiri bagi pengusaha untuk melangsungkan usaha perikanannya.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan ekspor hasil perikanan Januari-Oktober 2018 sebanyak 915 ribu ton. Pencapaian ini naik jika dibandingkan periode yang sama sebesar 862 ribu ton pada 2017. Dari sisi nilai, Januari-Oktober 2018 mencapai USD3,99 miliar, naik jika dibandingkan pada periode yang sama 2017 yang mencapai USD3,61 miliar. Sementara itu, FAO memprediksi pasar seafood dunia di 2024 mencapai 240 juta ton, 160 juta ton di antaranya adalah dari perikanan budidaya.


(MBM)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi