Staf Ahli Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin.
Staf Ahli Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin.

Suvenir RUPS BUMN Bukan sekadar Kabel USB

Ekonomi kementerian bumn
Suci Sedya Utami • 11 Desember 2019 20:32
Jakarta: Staf Ahli Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga menjelaskan larangan pemberian suvenir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perusahaan BUMN beralasan kuat.
 
Arya mengatakan Menteri BUMN Erick Thohir mengeluarkan larangan tersebut lantaran suvenir yang dibagikan jika dinominalkan bernilai tinggi. Namun demikian, Arya tidak menyebutkan secara spesifik nominal dari pemberian suvenir tersebut. Dia bilang suvenir yang diberikan bukan sekadar berbentuk flashdisk, powerbank, atau pulpen dan buku catatan.
 
"Ketika dibuat aturan oleh Pak Erick, ada sesuatu di suvenir yang dianggap enggak perlu diberikan, itu berarti ada nilainya. Kalau enggak ada nilainya enggak mungkin diatur, kalau hanya USB dan sejenisnya," kata Arya di Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Rabu, 11 Desember 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Arya mengatakan suvenir tersebut berbentuk banyak macam. Namun demikian mantan juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf ini tidak mau menyebutkan besaran nilai hadiah-hadiah tersebut.
 
Sebelumnya Menteri BUMN Erick Thohir menerbitkan larangan perusahaan-perusahaan BUMN memberikan suvenir atau sejenisnya dalam RUPS pada persero dan Rapat Pembahasan Bersama pada Perum.
 
"Dalam rangka efisiensi dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance), setiap penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham pada Persero dan Rapat Pembahasan Bersama pada Perum, dilarang untuk memberikan suvenir atau sejenisnya kepada siapapun," ujar Erick Thohir melalui Surat Edaran Nomor SE-8/MBU/12/2019.
 
Erick juga menyebutkan khusus untuk Persero Terbuka, dalam rangka memastikan keterpenuhan kuorum penyelenggaraan RUPS, dimungkinkan pemberian suvenir kepada pihak pemegang saham selain negara dengan memperhatikan kewajaran dan kepentingan perusahaan.
 
Direktur Utama Lembaga Management Fakultas Ekonomi Bisnis (LM-FEB) Universitas Indonesia Toto Pranoto menilai pemberian suvenir bisa dianggap sebagai bagian dari gratifikasi yang sebenarnya bertentangan dengan pengelolaan perusahaan yang baik (GCG).
 
"Itu saya kira terkait dengan gratifikasi, (larangan itu) wajar kalau saya lihat," kata Toto.
 
Menurut Toto, jika buah tangan itu diberikan di internal BUMN tidak ada gunanya. Oleh karenanya ia bilang lebih baik disetop karena tidak relevan. Namun jika perusahaan yang mengadakan RUPS merupakan BUMN terbuka dan banyak tamu yang hadir merupakan investor asing, tidak ada salahnya diberikan.
 
"Yang tidak wajar kalau suvenir ditujukan hanya ke lingkungan internal," jelas Toto.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif