Ilustrasi kegiatan ekspor impor. (FOTO: MI/Palce Amalo)
Ilustrasi kegiatan ekspor impor. (FOTO: MI/Palce Amalo)

Bahan Penolong Masih Dominasi Impor Juli

Ekonomi impor bps
Ilham wibowo • 15 Agustus 2019 13:42
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan perkembangan impor Juli 2019 sebesar USD15,51 miliar atau naik 34,96 persen dibanding bulan sebelumnya. Namun, saat dibandingkan Juli 2018 kinerja impor turun sebesar 15,21 persen.
 
"Struktur impor menurut penggunaan barang, peran golongan bahan baku/penolong sebesar 72,65 persen dari total impor Juli 2019," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam pemaparan di kantor BPS Jakarta Pusat, Kamis, 15 Agustus 2019.
 
Suhariyanto memaparkan impor nonmigas Juli 2019 mencapai USD13,77 miliar atau naik 40,72 persen dibanding Juni 2019, sebaliknya jika dibandingkan Juli 2018 turun 11,96 persen. Sektor terbesar impor Juli dibanding Juni 2019 yakni golongan mesin/pesawat mekanik sebesar USD901,6 juta (52,22 persen) dan penurunan terbesar yakni pada golongan aluminium sebesar USD122,0 juta (43,29 persen).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara impor migas Juli 2019 mencapai USD1,75 miliar atau naik 2,04 persen dibanding Juni 2019, dan dibandingkan Juli 2018 turun 34,29 persen. Peningkatan impor migas dipicu oleh naiknya nilai impor minyak mentah sebesar USD77,9 juta (19,11 persen), sementara nilai impor hasil minyak dan gas mengalami penurunan masing-masing USD16,5 juta (1,52 persen) dan USD26,4 juta (12,14 persen).
 
"Bahan baku mengalami kenaikan impor dengan harapan dapat menggerakkan industri dalam negeri," ungkapnya.
 
Nilai impor kumulatif Januari-Juli 2019 yakn USD97.6 miliar atau turun 9,00 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terjadi pada impor migas dan nonmigas masing-masing USD4.083,5 juta (24,42 persen) dan USD5.581,2 juta (6,16 persen).
 
Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Juli 2019 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai USD24,73 miliar (29,08 persen), Jepang USD9,09 miliar (10,69 persen), dan Thailand USD5,46 miliar (6,42 persen). Impor nonmigas dari ASEAN 19,48 persen, sementara dari Uni Eropa 8,47 persen.
 
Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari-Juli 2019 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 10,22 persen, 9,55 persen, dan 5,71 persen.
 
"Situasi perekonomian dunia sekarang boleh dibilang agak buram dan itu dialami semua negara. Kita tidak boleh melihat faktor eksternal, kita masih punya faktor internal yang perlu dilakukan berbagai kebijakan," ucapnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif