Ilustrasi tembakau. FOTO: Medcom.id.
Ilustrasi tembakau. FOTO: Medcom.id.

Kenaikan Cukai Rokok Dikritisi

Ekonomi rokok cukai tembakau
Husen Miftahudin • 10 Oktober 2019 01:22
Jakarta: Rencana pemerintah menaikkan cukai sebesar 23 persen dan Harga Jual Eceran (HJE) sebesar 35 persen dikritisi. Ketua Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) bidang Ketenagakerjaan dan Migran, Dita Indah Sari, menyebut kenaikan itu terlalu tinggi.
 
Hal tersebut dinilai bisa mengancam keberlangsungan industri tembakau serta pengolahannya. Bahkan, kenaikan cukai tersebut dalam 10 tahun terakhir paling tinggi. Pihaknya meminta kenaikan cukai hendaknya bersifat moderat.
 
"Kenaikan tarif cukai dan HJE hendaknya bersifat moderat dengan menggunakan inflasi dan pertumbuhan ekonomi sebagai acuan. Kenaikan hendaknya tidak lebih dari 15 persen," ujar Dita melalui keterangannya, Jakarta, Rabu, 9 Oktober 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dita mengingatkan efek domino jika pemerintah menaikkan cukai yang bisa merugikan buruh pabrik rokok dan petani tembakau di seluruh Indonesia. Salah satunya bakal mengurangi jumlah tenaga kerja hingga jutaan pekerja.
 
Di Industri Hasil Tembakau (IHT) jumlah pekerjanya terdiri dari 150 ribu buruh, 60 ribu karyawan, 2,3 juta petani tembakau, 1,6 juta petani cengkeh, dan 2,9 juta pedagang eceran.
 
"Pabrik rokok akan mengurangi tenaga kerja dan akan mengurangi pembelian tembakau dari petani, akibatnya (tembakau) petani tidak laku. Atau kalau pun laku, harganya buruk," imbuh Dita.
 
Dita menambahkan, pada 2012 terdapat 1.000 pabrik rokok yang beroperasi. Namun, akibat tekanan kenaikan cukai dan kampanye anti rokok, kini jumlah pabrik berkurang signifikan hingga tersisa 456 di 2018.
 
Menurutnya, IHT merupakan salah satu sektor manufaktur nasional yang strategis dan memiliki keterkaitan luas dari hulu hingga hilir. Selain itu, sektor IHT berkontribusi besar dan berdampak luas terhadap aspek sosial, ekonomi, maupun pembangunan bangsa Indonesia selama ini.
 
"IHT merupakan bagian sejarah bangsa dan budaya Indonesia, khususnya rokok kretek. Pasalnya, merupakan produk berbasis tembakau dan cengkeh yang menjadi warisan inovasi nenek moyang dan sudah mengakar secara turun temurun," ungkap Dita.
 
Kementerian Perindustrian mencatat, total tenaga kerja yang diserap oleh sektor industri rokok sebanyak 5,98 juta orang. Terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi, serta 1,7 juta bekerja di sektor perkebunan.
 
Pada 2018, nilai ekspor rokok dan cerutu mencapai USD931,6 juta atau meningkat 2,98 persen dibanding 2017 sebesar USD904,7 juta.
 

(ADN)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif