BI Sebut Penguatan USD Tidak Menguntungkan Riau
Ilustrasi (MI/PANCA SYURKANI)
Pekanbaru: Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau Siti Astiyah menyatakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah yang terlalu tinggi tidak membawa keuntungan bagi industri dan ekonomi di daerah yang berjuluk bumi lancang kuning itu. Diharapkan nilai tukar rupiah bisa tertahan pelemahannya terhadap USD.

"Tingginya nilai tukar tidak terlalu menguntungkan Riau. Awalnya orang mengira ekspor komoditi seperti dari minyak kelapa sawit akan diuntungkan karena kondisi dolar tinggi, tapi di sisi lain impor kita cukup besar pada industri pengolahan sehingga sebenarnya nilai ekspor kita bisa tertekan jauh," kata Siti, seperti dikutip dari Antara, Jumat, 1 Juni 2018.

Siti Astiyah mengatakan perlu ada komitmen bersama dari pusat dan daerah untuk meningkatkan kepercayaan pasar. Karena itu, perwakilan BI ditiap daerah juga melakukan sosialisasi tentang strategi BI untuk memperkuat nilai rupiah yang merupakan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta.

RDG Bank Indonesia pada 16-17 Mei 2018 memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poins (bps) menjadi 4,75 persen, suku bunga deposit facility sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 5,25 persen. Kenaikan itu berlaku efektif sejak 18 Mei 2018.

Siti menjelaskan kebijakan itu merupakan strategi jangka pendek sebagai kebijakan moneter stabilitas nilai tukar. Karenanya, BI meminta agar perbankan tidak bereaksi berlebihan dengan menaikkan tingkat suku bunga kredit maupun deposito.

"Oleh karena itu kita mengharapkan ini tidak diikuti dengan meningkatnya suku bunga deposito dan suku bunga kredit. Mengapa seperti itu? Karena kenaikan suku bunga ini kita melihat kondisi di pasar masih ada berlebih likuiditas hingga tidak perlu ada kenaikan suku bunga diperbankan," pungkasnya.

 



(ABD)