Upah Buruh Tani di Januari Tergerus Inflasi
Buruh tani menebar pupuk di Jombang, Jawa Timur. Ant /Syaiful Arif.
Jakarta: Upah buruh riil petani di Januari 2018 kembali tergerus oleh inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada penurunan sebesar 0,15 persen dari Rp37.507 di bulan sebelumnya, menjadi Rp37.450. Upah nominalnya mengalami kenaikan 1,07 persen dari Rp50.568 menjadi Rp51.110.

"Januari terjadi inflasi di pedesaan 1,22 persen," kata Kepala BPS Suhariyanto di kantor pusat BPS, Jakarta Pusat, Kamis, 15 Februari 2018.

Suhariyanto pun berkali-kali mengatakan penurunan upah buruh riil petani harus menjadi perhatian. Sebab penurunan itu menunjukkan daya beli petani turun. Apalagi, petani merupakan jenis pekerjaan yang masuk dalam golongan 40 persen menengah ke bawah.


Di sisi lain, upah buruh bangunan mengalami kenaikan baik dari sisi nominal harian maupun riil masing-masing sebesar 0,89 persen dan 0,26 persen. Upah nominal naik dari Rp84.454 menjadi Rp85.206, begitu juga riil naik Rp64.332 menjadi Rp64.501.

Dirinya mengatakan upah buruh tani yang lebih kecil dibanding buruh bangunan menyebabkan buruh tani banyak yang pindah menjadi buruh bangunan. Namun tentu saja hal itu tak bisa dibiarkan, karena akan membuat sektor pertanian tak punya pekerja.

Suhariyanto bilang, yang harus diperhatikan yakni bagaimana cara pemerintah untuk meingkatkan kesejahteraan buruh tani. Pertama, dia bilang, harga komoditas perlu naik, namun dengan menjamin harga barang yang dikonsumsi turun.

"Sebetulnya lebih kepada nilai tukar petani, kalau harga produknya belum naik, kemudian harga barang konsumsi sehari-hari naik dan produksi rendah itu akan memberatkan petani. Tentunya kita harapkan kesejahteraan petani naik," jelas dia.




(SAW)