Illustrasi. Dok : AFP.
Illustrasi. Dok : AFP.

Atasi Kredit Macet, Fintech Salin Sistem Perbankan

Ekonomi fintech
Nia Deviyana • 19 Maret 2019 16:25
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong asosiasi fintech mempercepat dibuatnya sistem yang bisa menganalisis rekam jejak kreditur. Sistem ini sebagai mitigasi banyaknya individu yang meminjam di lebih dari satu perusahaan peer to peer lending (P2P).
 
"Kalau di bank itu ada yang namanya SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan). Jadi kalau sistem ini ada nantinya seseorang tidak bisa minjam di beberapa peer to peer lending dalam waktu bersamaan," ujar Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sarjito saat ditemui di Institut Perbanas, Jakarta Selatan, Selasa, 19 Maret 2019.
 
Sarjito mengatakan banyaknya perusahaan P2P membuka akses yang mudah bagi masyarakat untuk meminjam uang. Namun, kemudahan meminjam di fintech harus dibarengi kesadaran, apakah jumlah uang yang dipinjam sebanding dengan kemampuan membayar. Apalagi, tambah dia, ada banyak perusahaan P2P ilegal sehingga jangan mudah tergoda meminjam.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ada suami-istri yang minjam di 20 peer to peer lending secara bersamaan. Apa enggak luar biasa? Saya ingin masyarakat memikirkan, walau sekarang mudah berhutang, tapi jangan mudah tergoda. Belum lagi banyak peer to peer lending ilegal, kita matikan satu tumbih seribu," cetusnya.
 
Sarjito menuturkan ada banyak nasabah yang datang ke OJK untuk meminta restrukturisasi hutang. "Padahal itu kan bukan wilayahnya OJK, tapi wilayah penyedia jasa keuangan. Tapi kalau setelah mitigasi ternyata memang ada pelanggaran undang-undang tetap kita tindak," tutur dia.
 
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Sunu Widyamoko menjelaskan sistem yang dimaksud OJK bernama Pusdafil (Pusat data fintech lending).
 
"Tujuannya ada dua, untuk melihat kinerja ketepatan pembayaran dan jumlah pinjaman online yang dimiliki," ujar Sunu, saat dihubungi Medcom.
 
Dia menambahkan sistem ini sebagai salah satu mitigasi untuk menekan non-performing loan (npl) di tengah tingginya permohonan pinjaman.
 
Perkembangan industri fintech di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Hal ini sejalan dengan target inklusi keuangan yang dicanangkan pemerintah sebesar 75 persen pada 2019.
 
Berdasarkan data OJK, hingga akhir Januari 2019 penyaluran pinjaman fintech lending senilai Rp25,59 triliun dari 99 penyedia layanan telah yang bergerak di bidang produktif, multiguna-konsumtif, dan syariah. Dari sisi kreditur, sudah ada sekitar 267 ribu entitas yang memberikan pinjaman kepada lebih dari lima juta masyarakat dengan lebih dari 17 transaksi.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif