Pemerintah Kaji Data Target Produksi Beras

Dheri Agriesta 22 Oktober 2018 20:06 WIB
beras
Pemerintah Kaji Data Target Produksi Beras
Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin rapat untuk mereview data produksi beras yang sempat simpang siur. Medcom/Dheri A.
Jakarta: Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin rapat untuk mereview data produksi beras yang sempat simpang siur. Kalla menyebut sudah tiga tahun data tentang produksi beras tak dimuat di Badan Pusat Statistik (BPS).

Rapat dihadiri Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalili, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, dan Kepala BPS Suhariyanto. Rapat juga dihadiri beberapa perwakilan dari Kementerian Pertanian, Badan Geospasial, dan Lapan.

"Kita mengambil suatu kesimpulan bahwa selama ini, sejak 2000, sebelum 2000 malah sejak 1997 terjadi suatu angka yang tidak sesuai dengan lapangan," kata Kalla usai rapat di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin, 22 Oktober 2018.

Kementerian Pertanian sebelumnya menyatakan target produksi beras 2018 sebesar 80 juta ton sangat realistis. Kementerian Pertanian pun optimistis bisa mencapai target itu.

Namun, Kalla heran dengan target yang dipasang Kementerian Pertanian. Mengingat, jumlah lahan dan sawah terus berkurang sebesar 1,5 persen setiap tahunnya beriringan dengan pertumbuhan populasi.

"Setelah kita evaluasi dengan berbagai metode ilmiah yang sangat kompeten tadi, butuh tiga tahun untuk memperbaiki data ini," kata Kalla.

Kalla mengatakan kekeliruan data terjadi sejak 1997. Pria asal Makassar ini meminta maaf tak segera mengevaluasi data ini saat menjabat sebagai Wakil Presiden mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyno pada periode 2004-2009.

Kalla menekankan angka ini telah banyak dikoreksi beberapa pihak, seperti ahli pertanian. Kini, pemerintah akan memanfaatkan teknologi untuk pengumpulan data sehingga memperkecil kemungkinan kekeliruan.

"Secara ilmiah kita perbaiki itu, yang dipakai ini (pengumpulan data) ada dua, satelit dan lapangan. Setelah satelit (lalu) dicek di lapangan, tiga tahun ini akan dikerjakan," jelas Kalla.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id