Illustrasi. Dok : Medcom.
Illustrasi. Dok : Medcom.

Bulog hanya Serap Beras 10 Ribu Ton

Ekonomi bulog
07 Maret 2019 16:11
Januari: Sepanjang Januari hingga Maret, pengadaan beras dalam negeri Perum Bulog baru mencapai 10 ribu ton. Jumlah itu sangat jauh di bawah target yang ditetapkan pemerintah melalui rapat koordinasi terbatas yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yakni sebesar 1,5 juta ton hingga pertengahan tahun.
 
Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh mengatakan minimnya kinerja serapan hingga awal bulan ketiga disebabkan harga gabah di tingkat petani yang masih tinggi.
 
Itu membuat perseroan kesulitan membeli gabah milik petani. Pasalnya, sesuai Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2015, Bulog hanya bisa menyerap gabah dengan harga Rp3.700 per kilogram (kg) dengan maksimal fleksibilitas 10 persen yakni Rp4.070 per kg. Sementara, saat ini, harga gabah masih di atas Rp4.500 per kg. Kondisi itu jelas membuat Bulog sulit bersaing dengan perusahaan-perusahaan swasta.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Serapan gabah kami terus jalan, hanya saja, harga masih tinggi. Sampai sekarang kami sudah serap 10 ribu ton," ujar Tri di Jakarta, Rabu, 6 Maret 2019.
 
Kendati demikian, ia optimistis, dalam beberapa bulan ke depan, serapan akan bisa dilakukan dengan maksimal mengingat saat ini belum menyentuh puncak musim panen raya.
 
"Kami tidak akan ada masalah serapan kalau harganya sudah masuk," tuturnya.
 
Gudang Bulog pun masih akan mampu menampung stok hingga 1,5 juta ton lagi. Dari total kapasitas gudang yang mencapai 3,9 juta ton di seluruh Indonesia, saat ini, hanya terisi 1,8 juta ton yang hampir seluruhnya berasal dari pengadaan 2018.
 
Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Pusat Serikat Petani Indonesia (SPI) Agus Ruli menilai serapan beras Bulog belum maksimal.
 
Agus mengungkapkan minimnya penyerapan beras petani juga disebabkan harga pembelian gabah dari pemerintah melalui Bulog yang lebih rendah dibandingkan harga di lapangan.
 
"Kita prediksi di akhir tahun ini atau awal tahun, diperkirakan akan kurang juga karena panen kita tidak maksimal," ungkap Agus dikutip dari Antara, Selasa, 20 November 2018.
 
Sementara itu Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus di kesempatan berbeda, mengatakan Bulog seharusnya antisipatif terhadap kenaikan harga beras.
 
Beberapa daerah, contohnya Riau, bahkan telah menyatakan mengalami defisit beras. Padahal di sisi lain stok beras di gudang Bulog melimpah ruang hingga 2,5 juta ton.
 
"Harusnya diantisipasi. Buat pemetaan di tiap daerah. Kan banyak gudangnya Bulog, bisa dipantau dari tiap gudang di daerah masih aman atau enggak," ucap Ahmad Heri Firdaus.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif