Toko Modern dan Daring Ancam Eksistensi Pasar Tradisional

Kisar Rajaguguk 20 November 2018 17:30 WIB
pasar tradisional
Toko Modern dan Daring Ancam Eksistensi Pasar Tradisional
Pasar Tradisional. MI/Susanto.
Depok: Pasar tradisional di Kota Depok makin terjepit. Menjamurnya pasar modern maupun pasar online atau daring penyebab pasar-pasar tradisional di Kota Depok semakin ditinggalkan dan nasibnya semakin di ujung tanduk.

Sucipto, 46, salah seorang pedagang di Pasar Tugu, Jalan Raya Bogor, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok mengaku sulit bersaing dengan pasar modern. Karena selain barang dagangan yang beragam, harga yang ditawarkan di pasar modern tergolong murah.

"Sebagai pedagang kecil, kami tidak tahu, apa yang harus kami lakukan," kata Sucipto, Selasa, 20 November 2018.

Ayah dari empat anak yang sudah berdagang sejak 1990-an itu menduga menurunnya daya beli masyarakat di pasar tradisional selama ini akibat konsumen lebih suka memilih belanja di pasar modern, ketimbang di pasar tradisional.

Menurut Sucipto selain murah, lingkungan di dalam pasar modern tampak bersih disertai dengan pelayanan yang memuaskan. "Itu lah daya tawar tersendiri yang diberikan pasar modern kepada masyarakat," ujar Sucipto yang sehari-harinya berjualan minyak goreng dan kebutuhan pokok lainnya.

Sucipto mengaku pasar online juga menjadi ancaman bagi pasar tradisional. "Masyarakat itu kan berkembang, sementara pasar tradisional kurang berkembang. Akibatnya, pasar tradisional kurang diminati. Oleh karena itu, pasar tradisional perlu dikembangkan agar dapat bersaing dengan pasar modern maupun pasar online," ujar Sucipto.

Pedagang sembako lainnya di pasar tradisional Pasar Tugu, Wulan, 37, mengkhawatirkan pasar Tugu dikemudian hari akan lenyap begitu saja. Karena di samping Pasar Tugu kini ada dua pasar modern.

"Selain lokasinya bersih, harga barang di pasar modern itu cenderung lebih murah dibandingkan dengan di pasar tradisional pasar Tugu," ujar Wulan, Selasa, 20 November 2018.

Kepala Tata Usaha Pasar Tugu Tri Handoko mngkhawatirkan lima pasar tradisional di Kota Depok terancam akan keberadaan pasar-pasar modern. Di pasar modern, saat ini sebagian barang kebutuhan rumah tangga lebih mahal daripada pasar tradisional di Kota Depok.

Di Pasar Tugu misalnya, harga telur ayam Rp21 ribu per kilogram lebih mahal Rp1.000. Harga telur di pasar modern sebesar Rp20 ribu per kilogram. Begitu pun dengan beras medium, di Pasar Tugu dijual seharga Rp10 ribu per liter di pasar modern Rp9.000 per liter, Harga cabai merah di Pasar Tugu dijual Rp32 ribu per kilogram di pasar modern Rp31 ribu per kilogram, cabai rawit keriting di Pasar Tugu dijual Rp28 ribu per kilogram di dipasar modern Rp27 ribu per kilogram.

Selama ini, lanjut dia, pasar tradisional distigmakan dengan kondisi pasar yang becek dan bau, tawar-menawar yang rumit, tidak aman, risiko pengurangan timbangan, penuh sesak, dan sejumlah alasan lainnya. "Kondisi inilah yang membuat banyak kios/los kosong di Pasar Tugu," ujar Tri Handoko.

Kendati demikian, kata dia, pihak pengelola pasar mengaku tidak punya kewenangan untuk melakukan intervensi terhadap transaksi perdagangan di pasar.

"Kami hanya menyiapkan tempat saja. Bagaimana harga barang dan mekanisme penjualannya itu kami serahkan kepada masing-masing pedagang," ujarnya.

Diakui, akibat maraknya pertumbuhan pasar modern di Kota Depok, khususnya di KelurahanTugu, Kecamatan Cimanggis, pasar tradisional Pasar Tugu 2018, hanya mampu mengumpulkan retribusi sebesar Rp349 juta dari target Rp400 juta.

"Kami berharap Pemkot Depok dan DPRD segera membuat peraturan, sehingga setidaknya pasar modern yang berjarak kurang dari tiga kilometer dari pasar tradisional. Kami khawatir, lima pasar tradisonal di Kota Depok akan tinggal sejarah karena menjamurnya pasar modern maupun pasar online," tutur Tri Handoko.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id