Impor Naik, Indeks Tendensi Bisnis Turun jadi 106,28
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto. (FOTO: ANTARA/Puspa)
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Indeks Tendensi Bisnis (ITB) triwulan I-2018 mengalami penurunan atau lebih rendah dari kuartal sebelumnya yakni 106,28. Hal itu terlihat dari angka ITB akhir tahun lalu atau kuartal IV-2017 yang tumbuh sebesar 111,02.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan penurunan indeks tendensi bisnis dipicu oleh tingginya angka impor sebesar 12,75 persen dibandingkan ekspor yang tumbuh hanya 6,17 persen.

Nilai ekspor barang Indonesia pada triwulan I-2018 mencapai USD44,26 miliar, atau turun sebesar 2,57 persen (q-to-q) dan naik 8,78 persen (yoy). Sementara nilai impor barang Indonesia pada triwulan I-2018 mencapai USD43,98 miliar, atau turun sebesar 1,09 persen (q-to-q) dan naik 20,12 persen (yoy).

"Kondisi bisnis secara umum masih tumbuh meski optimisme pelaku bisnis lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya," ungkap Kecuk sapaannya dalam sebuah jumpa pers di Gedung BPS, Jakarta, Senin, 7 Mei 2018.


Sumber: BPS

Menurutnya optimisme pelaku bisnis terjadi pada kategori lapangan usaha Jasa Keuangan dan Asuransi dengan nilai ITB sebesar 125,32. Sementara itu, kondisi bisnis terendah terjadi pada lapangan usaha Konstruksi dengan nilai ITB sebesar 92,16.

"Pendapatan usaha meningkat (nilai indeks sebesar 106,62), peningkatan penggunaan kapasitas produksi/usaha (nilai indeks sebesar 108,71), dan peningkatan rata-rata jumlah jam kerja (nilai indeks sebesar 103,51)," tuturnya.

Hal serupa terjadi pada indeks tendensi konsumen, angka ITK triwulan I-2018 tercatat sebesar 103,83 atau tumbuh lebih rendah secara (q to q) dari sebelumnya 107,00.

Kondisi ekonomi konsumen ditunjang oleh meningkatnya pendapatan dan volume konsumsi rumah tangga dengan indeks masing-masing sebesar 101,35 dan 110,04. Selain itu, tingkat kebebasan yang terkendali  tidak banyak berpengaruh terhadap tingkat konsumsi masyarakat yang ditunjukkan dengan indeks 103,59.

"Nilai ITK tertinggi terjadi di Kepulauan Bangka Belitung sebesar 110,51 dan terendah di Nusa Tenggara Timur sebesar 80,84," tutup Kecuk.



(AHL)