Ilustrasi (MI/Amiruddin Abdullah)
Ilustrasi (MI/Amiruddin Abdullah)

Bisnis Tertekan, Garuda Indonesia Tutup Beberapa Rute Penerbangan

Ekonomi garuda indonesia
Nia Deviyana • 22 Mei 2019 07:45
Jakarta: PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) memaparkan kondisi industri penerbangan yang tertekan akibat mahalnya harga avtur dan melemahnya nilai tukar rupiah. Ditambah, belum lama ini pemerintah memutuskan menurunkan Tarif Batas Atas (TBA) sebesar 12-15 persen pada maskapai full service.
 
Menurut Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, hanya di Indonesia ada aturan Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB). Belum lagi, biaya pemotongan pajak untuk avtur dan leasing.
 
"Saya bukan mau protes tapi ini (kondisi) apa adanya. Kita dikenakan lagi di avtur PPN 10 persen, leasing pesawat di Indonesia 10 persen. Komponen pajak jumlahnya cukup besar sehingga tidak bisa kalau bersaing di luar negeri," ucap Ari, sapaannya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR, di Geduny DPR, Senayan, Jakarta, Selasa, 21 Mei 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Guna menekan kerugian, emiten bursa berkode GIAA ini terpaksa menutup beberapa rute penerbangan, termasuk Jakarta-London usai liburan musim panas. "Sekarang kami berpikir untuk menutupnya setelah liburan. Karena kita memang tidak bisa kasih subsidi lagi. Jadi untuk liburan Lebaran kami habiskan," terang Ari.
 
Maskapai pelat merah ini juga bakal mengurangi frekuensi penerbangan ke Amsterdam. Penerbangan akan dikurangi frekuensinya dari sebanyak enam kali menjadi hanya tiga kali. "Jadi memang dampaknya cukup banyak dari penurunan tarif ini. Tapi untuk destinasi Eropa kita tidak terlalu pusing," imbuhnya.
 
Beberapa rute domestik turut terdampak. Ari bilang beberapa penerbangan ke daerah remote (terpencil) bakal dikurangi frekuensinya, mencakup Morotai, Maumere, dan Bima. Pasalnya, bahan bakar untuk menuju rute tersebut jauh lebih mahal, bisa 80 persen di atas harga bahan bakar pada umumnya.
 
Selain itu, operasinya juga dibatasi hanya pada pukul 15.00-16.00. "Harus kami hitung-hitung lagi memang. Belum lagi kalau pesawat telat dan akhirnya harus menginap, Garuda Indonesia harus membiayai kru yang bertugas," tuturnya.
 
Selain itu Garuda Indonesia bakal menutup penerbangan rute Mumbai-Denpasar dan Belitung-Singapura. Ari menuturkan rute tersebut pada awalnya dibuka lantaran Kementerian Pariwisata menjanjikan memberi dana Rp8 miliar per bulan. Khusus Belitung-Singapura, dijanjikan Rp8 miliar untuk enam bulan. Sayangnya, janji tersebut belum ditepati.
 
Kendati demikian, lanjut Ari, bisnis perusahaan masih ditopang beberapa penerbangan potensial seperti ke Jepang, Singapura, Jeddah, dan Madinah kendati secara harga masih di bawah maskapai negara lain.
 
"Di Indonesia harga rata-rata per jam itu dalam rupiah kita paling rendah sendiri dibandingkan dengan Jepang atau Tiongkok, Amerika Serikat, Eropa, atau Australia. Ini proporsi waktu TBA masih tinggi, sekarang turun, tambah jauh lagi," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif