Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Kemendag Pantau Penyebab Tingginya Impor dari Tiongkok

Ekonomi kementerian perdagangan ekonomi china
Nia Deviyana • 16 Agustus 2019 08:13
Jakarta: Defisit perdagangan nonmigas antara Indonesia dengan Tiongkok tercatat sebesar USD11,05 miliar sepanjang Januari-Juli 2019. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya di angka USD10,33 miliar.
 
Adapun defisit yang cukup melebar menjadi sinyal tingginya permintaan barang ke negeri Tirai Bambu. Melihat hal ini, Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan memantau kondisi pasar untuk memastikan penyebab melonjaknya permintaan apakah karena harganya lebih murah dibandingkan produk lokal.
 
"Harus dicek dulu. Enggak boleh gegabah bilang barang Tiongkok lebih murah," ujar Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Indrasari Wisnu Wardhana di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis, 15 Agustus 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di sisi lain, Wisnu juga meminta masyarakat untuk tidak berasumsi macam-macam. Adapun asumsi terhadap impor barang dari Tiongkok acapkali membuat kegaduhan.
 
"Lagipula kita kan membeli dengan USD, bukan dengan yuan," tambah Wisnu.
 
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan perkembangan impor Juli 2019 sebesar USD15,51 miliar atau naik 34,96 persen dibanding bulan sebelumnya.
 
Kepala BPS Suhariyanto memaparkan impor nonmigas Juli 2019 mencapai USD13,77 miliar atau naik 40,72 persen dibanding Juni 2019, sebaliknya jika dibandingkan Juli 2018 turun 11,96 persen.
 
Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Juli 2019 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai USD24,73 miliar (29,08 persen), Jepang USD9,09 miliar (10,69 persen), dan Thailand USD5,46 miliar (6,42 persen). Impor nonmigas dari ASEAN 19,48 persen, sementara dari Uni Eropa 8,47 persen.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif