Deputi bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir saat sosialisasi KUR. (FOTO: dok Kemenko Perekonomian)
Deputi bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir saat sosialisasi KUR. (FOTO: dok Kemenko Perekonomian)

Pemerintah Atur Ulang Strategi Impor

Ekonomi ekspor impor
Nia Deviyana • 10 Juni 2019 12:26
Jakarta: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan Indonesia sudah mengalami imbas dari penurunan pertumbuhan ekonomi global. Adapun imbasnya adalah penurunan ekspor sejak kuartal I-2019.
 
"Ekspor jelas sudah menurun. Triwulan I-2019 ekspor kita kontraksi minus 2,3 persen. Tapi impor kita lebih besar kontraksinya sehingga dari sisi eksternal dapat positif," ujar Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir usai Halal Bihalal di Gedung Ali Wardhana Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin, 10 Juni 2019.
 
Mengatasi hal tersebut, mau tidak mau pemerintah harus mengatur ulang strategi impor. Iskandar bilang, untuk barang impor yang tidak memberi pengaruh langsung, harus dibatasi jumlahnya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kecuali barang belanja modal, seperti mesin-mesin itu bagus untuk investasi. Untuk barang ini tidak perlu di rem (impornya) karena bisa men-generate lapangan pekerjaan, sehingga ada output baru dalam ekonomi," terang Iskandar.
 
International Monetary Fund (IMF) atau Dana Moneter Internasional sebelumnya menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global 2019 menjadi 3,3 persen dari proyeksi sebelumnya 3,5 persen.
 
Dalam laporan World Economic Outlook (WEO) yang diterbitkan 9 April 2019 disebutkan, IMF memandang perekonomian dunia menghadapi risiko-risiko penurunan karena ketidakpastian potensial dalam ketegangan perdagangan global yang sedang berlangsung, serta faktor-faktor spesifik negara dan sektor lainnya.
 
Proyeksi 3,3 persen untuk 2019 adalah 0,3 poin di bawah angka 2018, dan diharapkan tumbuh kembali menjadi 3,6 persen pada 2020. Proyeksi laju pertumbuhan negara-negara maju adalah 1,8 persen untuk 2019 dan 1,7 persen untuk 2020, keduanya di bawah tingkat dua persen-plus yang tercatat dalam dua tahun sebelumnya, menurut laporan WEO.
 
Untuk negara-negara emerging market dan negara-negara berkembang, IMF memperkirakan tingkat pertumbuhan turun menjadi 4,4 persen untuk 2019, atau 0,1 poin lebih rendah dari pada 2018, dan bahwa ekspansi akan pulih ke tingkat 4,8 persen pada 2020, menyamakan hasil 2017.
 
Kepala ekonom IMF Gita Gopinath menyalahkan situasi sebagian besar pada ketegangan perdagangan global, tekanan ekonomi makro di Argentina dan Turki, gangguan pada sektor otomotif di Jerman, dan pengetatan keuangan bersamaan dengan normalisasi kebijakan moneter di negara-negara maju yang lebih besar.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif