Direktur Eksekutif Kebijakan Makroprudensial BI Juda Agung. Medcom/Husen M.
Direktur Eksekutif Kebijakan Makroprudensial BI Juda Agung. Medcom/Husen M.

Empat Tahun Mendatang, BI Dorong Kredit Perbankan Tumbuh ke Level 16%

Ekonomi perbankan
Husen Miftahudin • 27 Juni 2019 05:36
Jakarta: Bank Indonesia (BI) akan terus membantu perbankan dengan menjaga keseimbangan antara tujuan makroekonomi dan mikroekonomi. Hal tersebut dilakukan bank sentral demi menggenjot penyaluran kredit sehingga bisa berkontribusi lebih besar bagi perekonomian Indonesia.

Direktur Eksekutif Kebijakan Makroprudensial BI Juda Agung mengatakan penerapan kebijakan tersebut akan dilakukan hingga empat tahun ke depan. Harapannya, fungsi intermediasi perbankan bisa tumbuh hingga ke level 16 persen secara tahun ke tahun atau year on year (yoy). Level 15-16 persen merupakan kategori optimal dalam pertumbuhan pembiayaan perbankan.
 
"Dalam tiga hingga empat tahun ke depan masih perlu kebijakan makroprudensial yang akomodatif," ujar Juda dalam diskusi tentang kebijakan makroprudensial di CGV Cinema, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu, 26 Juni 2019.
 
Menurut dia, perkiraan pertumbuhan kredit perbankan sebesar 15-16 persen (yoy) didorong proyeksi ekonomi pada 2022-2023 mencapai enam persen. Saat ini, pertumbuhan ekonomi domestik bertengger di level 5,07 persen. Juda menjelaskan dengan pertumbuhan ekonomi saat ini dan pertumbuhan kredit perbankan hanya di level 11,05 persen yoy, masih di bawah level optimal bagi perbankan Indonesia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Faktornya, ucap dia, karena rendahnya permintaan masyarakat terhadap pembiayaan perbankan. Dari sisi suplai, bank sentral terus berupaya melonggarkan likuiditas bagi perbankan dan mendorong perbankan untuk menyalurkan likuiditasnya ke masyarakat melalui kredit.
 
"Kami terus awasi penyaluran kredit ini. Kami harapkan kredit disalurkan ke sektor produktif dan sektor yang berorientasi ekspor," tegas Juda.
 
Sejak 2018, Bank Indonesia terus menelurkan berbagai kebijakan makroprudensial untuk mendorong pertumbuhan kredit. Berbagai kebijakan itu antara lain pelonggaran rasio uang muka terhadap total aset properti atau Loan to Value (LTV).
 
Kemudian, penerapan perhitungan rata-rata terhadap kewajiban Giro Wajib Minimum Primer. Juga pelonggaran batas atas Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM), serta Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM).

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif