Ilustrasi (MI/SUSANTO)
Ilustrasi (MI/SUSANTO)

PLN Perlu Perbanyak Penggunaan Panel Surya untuk Desa

Ekonomi listrik pembangkit listrik pln tarif listrik
28 Juni 2019 12:01
Jakarta: PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) dinilai perlu memperbanyak pemakaian tenaga listrik untuk pedesaan terutama di daerah terpencil dan pulau-pulau kecil dengan penggunaan panel surya. Hal itu dianggap penting guna memperbesar penggunaan energi terbarukan di Tanah Air.
 
"Indonesia beriklim tropis serta berada di garis khatulistiwa sehingga memiliki tenaga matahari yang sangat baik," kata Anggota Komisi VI DPR RI Mohammad Hatta, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Jumat, 28 Juni 2019.
 
Menurut Hatta sangat tidak tepat bila PLN lebih mengutamakan pemberian genset untuk listrik desa, apalagi bila penggunaaan alokasi anggaran untuk hal tersebut menggunakan penyertaan modal negara. Ia berpendapat bahwa genset tidak tepat karena berbahan baku solar sehingga membawa BBM, terutama ke kawasan timur Indonesia, tidak murah harganya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kenapa tidak solar cell (panel surya) saja yang ditingkatkan oleh PLN dibandingkan dengan menggunakan listrik dari genset," katanya.
 
Ia menuturkan saat ini banyak genset yang tidak terpakai sedangkan penganggaran untuk hal itu masih ada. Karenanya, ia menilai, pola-pola semacam itu harus diubah sehingga kondisi finansial PLN juga bisa lebih sehat.
 
Sebelumnya Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menyebut pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) masih sangat lambat meski Indonesia kaya terhadap potensi sumber daya EBT.
 
Fabby menuturkan sepanjang 2015-2018, penambahan kapasitas pembangkit energi baru terbarukan hanya 882 mega watt (MW). Padahal, di era sebelumnya, yakni 2010-2014, kapasitas pembangkit EBT bisa mencapai 2.615,7 MW. Kalau ini diteruskan sampai 2019, ia memperkirakan, jumlah itu bertambah 300 MW sehingga total kapasitas maksimum hanya 1.200 MW.
 
Dengan capaian porsi EBT dalam bauran energi yang saat ini baru delapan persen, pemanfaatan EBT masih disebut sangat lambat. Padahal sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) capaian saat ini seharusnya sudah mencapai 16 persen agar bisa mencapai target 23 persen pada 2025.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif