Kepala Kanwil DJP Jakarta Utara Adjat Djatnika. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin.
Kepala Kanwil DJP Jakarta Utara Adjat Djatnika. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin.

Hakordia 2019, Langkah DJP Cegah Kasus Gayus Terulang

Ekonomi Hari Antikorupsi Internasional anti korupsi
Husen Miftahudin • 13 Desember 2019 10:57
Jakarta: Direktorat Jenderal Pajak (DJP) melalui Kantor Wilayah (Kanwil) Jakarta Utara memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia) 2019 di area Museum Kota Tua. Hal ini menjadi langkah nyata institusi perpajakan dalam mencegah kasus rekening gendut Gayus Tambunan terulang.
 
Kepala Kanwil DJP Jakarta Utara Adjat Djatnika mengatakan peringatan Hakordia 2019 merupakan pengingat para pegawai pajak untuk semakin mewawas diri terhadap bahaya korupsi.
 
"Setiap hari kita saling mengingatkan antara sesama kita supaya Indonesia bebas korupsi. Dengan ini Insyaallah (tidak ada kasus Gayus yang lain), mudah-mudahan," ujar Adjat dalam peringatan Hakordia 2019 di area Museum Kota Tua, Jakarta, Jumat, 13 Desember 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adjat mengaku PNS di Direktorat Jenderal Pajak kini punya pengawasan ekstra ketat terhadap bahaya laten korupsi. Pengawasannya menggunakan three line defense, melibatkan pihak internal dan eksternal dalam mencegah tindak tanduk korupsi di institusi perpajakan.
 
"Kita juga bekerja sama terus dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jadi kita niat untuk benar-benar menghilangkan korupsi," tegas dia.
 
Hasilnya, sebut Adjat, tindak kecurangan di kantor-kantor pajak baik di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) maupun di kantor wilayah kini sudah jauh berkurang. "Dibanding tahun 2000-an, sekarang sudah sangat jauh berkurang, sudah sangat bagus karena kita waspada terus," klaim Adjat.
 
Gayus Tambunan merupakan mantan PNS pada DJP Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang punya rekening gendut. Sebagai PNS golongan III/A, Gayus sudah menyimpan Rp25 miliar di rekeningnya.
 
Tak hanya itu, ia juga memiliki uang asing senilai Rp60 miliar dan perhiasan senilai Rp14 miliar. Uang dan perhiasan milik Gayus tersebut disimpan di brankas bank atas nama istrinya.
 
Semua hartanya dicurigai sebagai harta haram hasil tindakan korupsi dan suap mafia di institusi perpajakan. Kasus Gayus itu mencoreng proses reformasi perpajakan di Kementerian Keuangan yang saat itu gencar digulirkan Sri Mulyani. Kasus Gayus sekaligus menghancurkan citra aparat perpajakan Indonesia.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif