Illustrasi. Dok : AFP.
Illustrasi. Dok : AFP.

Bappenas: Disrupsi Jangan Selalu Dipandang Negatif

Ekonomi bappenas
Nia Deviyana • 14 Agustus 2019 19:38
Jakarta: Menteri Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan disrupsi sudah menjadi konsekuensi dari era revolusi industri 4.0. Namun, hal tersebut tidak selalu buruk.
 
"Kadang orang melihat disrupsi sebagai suatu gangguan. Padahal dengan revolusi industri 4.0, ada potensi Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) selama 1-2 tahun di atas baseline. Jadi kalau baseline 5 persen, kita bisa mendapatkan sampai 6-7 persen," ujar Bambang saat mengisi diskusi Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk SDM Unggul, Indonesia Maju di Kantor Bappenas, Jakarta, Rabu, 14 Agustus 2019.
 
Bambang juga tidak menampik akan ada banyak profesi lama yang hilang akibat digitalisasi. Kendati demikian, profesi yang hilang akan tergantikan dengan yang baru.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dengan adanya efisiensi akibat industri 4.0, akan muncul pekerjaan baru. Silakan lihat startup, mereka memberikan hidup yang lebih mudah dan menyenangkan, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Dan otomatis industri 4.0 membuat indonesia produktif dan efisien karena bertumpu pada manufaktur, tidak lagi pada sumber daya alam," paparnya.
 
Untuk merealisasikan target industri 4.0, lanjut Bambang, persoalan Sumber Daya Manusia (SDM) masih menjadi tantangan. Bambang bilang dalam beberapa indikator pembangunan, peringkat Indonesia memang tertinggal dengan negara sekawasan.
 
Misalnya jika bicara mengenai Human Capital Index atau Indeks Modal Manusia yang dipublikasikan World Bank pada 2018, mencatat Indonesia berada pada level 0,53.
 
"Human Capital Index 0,53 itu kalau dibaca berdasarkan capaian pendidikan dan status kesehatan, diperkirakan anak-anak Indonesia yang lahir saat ini, pada 18 tahun ke depan hanya bisa mencapai produktivitas sebesar 53 persen dari potensinya," terang Bambang, pada kesempatan yang sama.
 
Angka tersebut, jauh lebih rendah dibandingkan Singapura yang berada pada level 0,95, Jepang di 0,94, Korea di 0,94, Malaysia di 0,88, dan Vietnam di 0,67.
 
"Jadi kalau bicara persaingan dengan Vietnam saja, mereka lebih produktif. Taruhlah indonesia bersaing dengan Vietnam dalam memproduksi produk manufaktur yang sama, kita akan kalah karena produktivitas mereka lebih tinggi dari produktivitas kita," pungkasnya.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif