Direktur Utama BRI Sunarso. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu Artanti
Direktur Utama BRI Sunarso. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu Artanti

Melambat, Laba Bersih BRI Hanya Tumbuh 5,36%

Ekonomi perbankan bri
Annisa ayu artanti • 24 Oktober 2019 12:50
Jakarta: PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) atau BRI membukukan laba bersih sebesar Rp24,8 triliun pada kuartal III-2019 atau naik 5,36 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Meski tumbuh, namun melambat lantaran pada periode kuartal III-2017 ke kuartal III-2018 mampu tumbuh double digit yakni 14,6 persen.
 
"Kenapa laba (bersih) BRI hanya tumbuh lima persen (di kuartal III-2019), apa yang terjadi? Ada kenaikan Non Performing Loan (NPL) maka ada kenaikan biaya cadangan sehingga pertumbuhan (kredit) kami hanya single digit," kata Direktur Utama BRI Sunarso, saat konferensi pers di Gedung BRI, Jakarta, Kamis, 24 Oktober 2019.
 
Adapun laba bersih dapat tumbuh lantaran ditopang oleh penyaluran kredit yang tumbuh double digit atau di atas rata-rata industri, terutama kredit mikro yang tumbuh 13,23 persen, atau sepertiga dari total kredit BRI.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bila dirinci penyaluran kredit BRI pada kuartal III-2019 tercatat Rp301,89 triliun untuk kredit mikro, kredit konsumer Rp137,29 triliun, kredit ritel dan menengah Rp261,67 triliun, dan kredit korporasi Rp 202,3 triliun.
 
Sunarso menambahkan NPL kuartal III-2019 tercatat sebesar 3,08 persen. Saat ini, NPL tertinggi terjadi di segmen korporasi dan beberapa sektor lain seperti industri semen dan tekstil. Dalam hal ini, ia menegaskan, BRI berani mengeluarkan biaya cadangan 100 persen dari NPL.
 
Seperti Duniatex Group dan PT krakatau Steel, Sunarso menyebutkan, sudah memiliki cadangan yang cukup untuk manajemen risiko. BRI mencadangkan 60 persen untuk industri semen dan 100 persen untuk Duniatex.
 
"Kita berani mengeluarkan biaya cadangan untuk mengkover risiko yang terjadi. Apabila nanti restrukturisasi berhasil dan riskiko tidak terjadi maka akan memperkuat laba kita di waktu mendatang," jelas dia.
 
Sementara untuk Dana Pihak Ketiga (DPK), BRI berhasil menghimpun dana sebesar Rp959,24 triliun atau tumbuh 9,91 persen yoy lebih tinggi dibandingkan dengan industri sebesar 7,62 persen (data OJK Agustus 2019).
 
Giro tumbuh 21,77 persen yoy menjadi Rp171,85 triliun, tabungan BRI tumbuh 9,20 persen yoy menjadi Rp384,02 triliun dan deposito tumbuh 6,16 persen yoy menjadi Rp 403,37 triliun. Pertumbuhan giro dan tabungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan deposito mampu mendongkrak dana murah (CASA) BRI.
 
Pada kuartal III-2019, CASA BRI tercatat 57,95 persen atau meningkat dibandingkan dengan kuartal III-2018 sebesar 56,46 persen. Dari sisi Fee Based Income (FBI), hingga akhir September 2019, mampu tumbuh double digit sebesar 12,03 persen yoy atau sebesar Rp9,74 triliun dibandingkan dengan FBI kuartal III-2018 sebesar Rp8,69 triliun.
 
Untuk rasio perbankan lainnya, Loan to Deposit Ratio (LDR) BRI tercatat 94,15 persen dan CAR 21,89 persen. “Angka LDR ini kami nilai sangat moderat dan CAR yang cukup kuat untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan BRI di masa mendatang,” pungkas Sunarso.

 

(DEV)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif