Gandeng Jerman, Pemerintah Integrasi EBT di 1.000 Pulau

Suci Sedya Utami 21 November 2018 16:57 WIB
energi terbarukan
Gandeng Jerman, Pemerintah Integrasi EBT di 1.000 Pulau
Energi Terbarukan. Dok;AFP.
Jakarta: Kerja sama di bidang energi antara Indonesia dan Jerman yang telah berlangsung selama 25 tahun terus ditingatkan. Salah satunya yakni dengan pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

Pengembangan tersebut dilakukan melalui pengintegrasian EBT ke lokal grid atau jaringan tenaga listrik milik PT PLN (Persero). Sehingga nantinya sistem kelistrikan bisa terkoneksi pada EBT. Rencananya kerja sama tersebut dilakukan di 1.000 pulau.

"Sudah 25 tahun kita ber-partner, saya berharap Jerman masih terus mengembangkan renewable energy di Indonesia," kata Direktur Jenderal EBT dan Konservasi Energi Rida Mulyani di acara 2018 Indonesian-German Renewable Energy Day di Jakarta, Rabu, 21 November 2018.

1.000 pulau tersebut masuk dalam renewable energy for electrification programme (REEP) yang merupakan proyek kerja sama antara Indonesia dan Jerman. Kerja sama tersebut bertujuan untuk membantu Indonesia mencapai 23 persen target EBT di 2025.

Proyek ini diintegrasikan oleh Ditjen EBTKE Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ) yang ditunjuk oleh Kementerian Federal Jerman untuk kerjasama ekonomi dan pembangan.

Dua pulau yang akan menjadi lokasi demonstrasi yakni  yakni Keledupa derta Belitung. Pulau Kaledupa merepresentasikan daerah dengan aliran listrik masih 12 jam dengan pembangkit utama berupa diesel, beban puncak  di bawah 10 MW. Opsi integrasi EBT berupa hybrid PV-diesel-baterai.

Sementara Pulau Belitung merepresentasikan daerah dengan pelistrikan 24-jam, beban puncak 10-100 MW, suplai listrik sudah mix batubara, gas, diesel. Integrasi EBT di Belitung dapat berupa PLTS dan PLTBg dengan memanfaatkan limbah kelapa sawit. Kurang lebih 43 lokasi island grids semacam ini di Indonesia dengan total beban puncak 1.1 GW.

Dalam acara tersebut juga ditandatangani nota kesepahaman (MoU) antara Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) dan Perkumpulan Pengguna Listrik Surya Atap (PPLSA) dengan perusahaan asal Jerman, Bundesverband Solarwirtschaft e.V. yang bergerak di bidang pengembangan PLTS Atap atau Rooftop.

"Kita kerja sama untuk tingkatkan capacity building, meningkatkan kualitas pemasang-pemasang (rooftop solar) di kita juga kita berikan pengetahuan yang cukup. Kita memang belum detailkan kegiatan yang akan dilakukan tapi minimal melakukan pelatihan-pelatihan pada kawan-kawan yang memasang," jelas Chairman PPLSA Yohanes Bambang Sumaryo.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id