Illustrasi. MI/RAMDANI.
Illustrasi. MI/RAMDANI.

Dana USO Belum Merdekakan Indonesia dari Masalah Sinyal

Ekonomi ekonomi indonesia
Nia Deviyana • 27 Desember 2018 23:46
Jakarta: Dana Universal Service Obligation (USO) dinilai masih belum bisa memerdekakan Indonesia dari masalah sinyal. USO yang dikenal juga dengan dana Kewajiban Umum, dikontribusi oleh para pelaku bisnis telekomunikasi pada setiap kuartal, dengan nilai pungutan 1,25 persen dari pendapatan usaha.
 
"Untuk memerdekakan sinyal 100 persen rasanya tidak mungkin kalau sumbangan operator hanya 1,25 persen," ujar Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Indivasi (BAKTI) Kekominfo Anang Latif saat ditemui di Jakarta, Kamis, 27 Desember 2018.
 
Apalagi, tambah dia, kualitas sinyal di wilayah yang sudah tersentuh program USO terus meningkat seiring kebutuhan masyarakat. Dia mencontohkan dengan banyaknya pengguna smartphone, maka kebutuhan akan sinyal 4G semakin tinggi, yang mana sebelumnya sinyal 2G saja sudah cukup.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Untuk meningkatkan ini dibutuhkan teknologi dan biaya yang besar," tambah dia.
 
Pada kesempatan yang sama, pengamat telekomunikasi Kamilov Sagala berpendapat pemerintah perlu meminta pemain bisnis besar untuk turut berkontribusi.
 
"Pemain over on the top kayak Google, Facebook, dan Twitter harusnya bisa ditarik untuk kasih kontribusi ke USO," kata dia.
 
Untuk mengatasi masalah sinyal, Kemkominfo menargetkan pembangunan lebih dari 5.000 menara sinyal seluler (based tranciever station/BTS) di berbagai titik kosong seluruh wilayah tanah air. Dari jumlah BTS yang akan dibangun, sekitar 3.700 berada di desa-desa kategori 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal).
 
Data per Maret 2018, dari total target 5.135 BTS yang bakal dibangun, progresnya hingga saat ini sudah tercapai 600. Total anggaran yang digunakan untuk 600 BTS sekitar Rp600 miliar yang berasal dari USO.
 
Dengan banyaknya BTS yang dibangun maka dana yang dibutuhkan pun semakin besar. Ia memaparkan untuk satu BTS 2G saja dibutuhkan dana opeerasional sebesar Rp80 juta per bulan. "Kalau diupgrade jadi 4G paling tidak Rp100 juta per bulan. Itu baru satu BTS ya," urai dia.
 
Meski dananya dinilai masih kurang untuk mencapai target, Anang mengaku tak mau meminta tambahan dari operator seluler. "Industri operator seluler yang kita tahu lagi suffer, jadi kalau bisa dapat tambahan dari luar industri telekomunikasi," pungkasnya.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif