Ilustrasi petani tembakau. Foto: Antara/Anis.
Ilustrasi petani tembakau. Foto: Antara/Anis.

Tembakau Indonesia dalam Tekanan Bisnis Asing

Ekonomi tembakau
29 Maret 2018 19:32
Jakarta: Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Agus Parmuji menyebut tembakau lokal dalam tekanan bisnis asing. Kepentingan bisnis global di sektor tembakau telah masuk ke Indonesia sejak tahun 2000.
 
Agus mengatakan, Indonesia dengan jumlah penduduk yang padat menjadi incaran bisnis dan lahan emas bagi korporasi multinasional penguasa industri rokok dunia. Mereka melakukan segala cara untuk mencaplok industri rokok nasional.
 
"Upaya itu diawali dengan kampanye antitembakau dengan dalih kesehatan, lalu berkembang dengan alasan merusak ekonomi, tembakau sebagai gerbang narkoba, hingga memecah belah kesatuan petani tembakau untuk kepentingan penguasaan dagang mereka," kata Agus dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 29 Maret 2018.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Agus mengungkapkan, pergerakan industri rokok asing telah mengoyak rokok kretek dalam negeri. Hal itu ditandai dengan upaya nyata menggerus industri rokok kretek, yang merupakan penyerap bahan baku petani lokal.
 
Baca: RUU Pertembakauan akan Atur Pemberdayaan Petani
 
Setelah kretek digerus, satu persatu industri rokok nasional dicaplok oleh industri rokok asing. Sejak itu pula impor tembakau meningkat.
 
"Ini sangat ironis. Sebagai negara agraris dan penghasil tembakau besar, kenapa Indonesia harus impor?" ujarnya.
 
Selama ini, perusahaan rokok asing berusaha mematahkan klaim petani bahwa tembakau impor tidak dibudidayakan di Indonesia, baik jenis maupun varietasnya.
 
"Jangan salah, negeri kita besar, lahannya luas, sehingga apapun bisa kita lakukan untuk memberdayakan petani asalkan ada niat baik dari para penentu kebijakan," kata Agus.
 
Agus mengatakan, Presiden Jokowi sangat peduli terhadap nasib petani tembakau. Terbukti dari terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 84 Tahun 2017 tentang Ketentuan Impor Tembakau. Permendag yang mengatur pembatasan impor tembakau itu terbit hanya berselang sebulan setelah pertemuan APTI dengan Presiden.
 
"Sampai sekarang produsen rokok putih memprotes, meminta agar Permendag tersebut ditinjau kembali. Mereka berargumentasi produksi tembakau nasional belum mencukupi, sehingga harus impor. Padahal, apakah berdosa jika petani menolak impor dan menuntut kedaulatan di negerinya sendiri?” kata Agus.
 

 

(FZN)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif