Ilustrasi. FOTO: MI
Ilustrasi. FOTO: MI

Sistem Resi Gudang di Makassar Bantu Petani untuk Ekspor

Ilham wibowo • 27 Desember 2019 09:51
Jakarta: Sistem Resi Gudang (SRG) terus didorong untuk bisa diimplementasikan secara maksimal di berbagai daerah. Beragam manfaat bisa dirasakan seperti fasilitas kemudahan dalam menembus pasar ekspor.
 
Kepala Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tjahya Widayati mengatakan SRG rumput laut di kawasan pergudangan Parangloe Indah milik PT Asia Sejahtera Mina di Makassar, Sulawesi Selatan, berhasil membantu para petani untuk ekspor. Para petani telah menerima manfaat berupa peningkatan nilai tambah atas komoditas tersebut.
 
"Saat komoditas rumput laut yang disimpan di Gudang SRG memenuhi kecukupan pasokan, standar kualitas, dan harga yang kompetitif, komoditas dapat dijual kepada para importir di luar negeri," ujar Tjahya, melalui keterangan tertulisnya, Jumat, 27 Desember 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapun gudang SRG tersebut dikelola PT Wahana Pronatural Tbk yang sebelumnya sempat dikelola Koperasi Serikat Pekerja Merdeka Indonesia (Kospermindo) mulai semester II-2019. Hingga November 2019, telah diterbitkan dua resi gudang untuk 300 ton rumput laut senilai Rp7,050 miliar dengan pembiayaan lebih dari Rp4,93 miliar melalui BJB.
 
Pada periode Maret 2018-Maret 2019, Gudang SRG ini telah menerbitkan delapan resi gudang untuk 950 ton rumput laut senilai Rp8,55 miliar dengan pembiayaan mencapai Rp5,35 miliar melalui BJB dan PKBL PT Kliring Berjangka Indonesia.
 
Tjahya menegaskan pihaknya terus berupaya menyederhanakan prosedur dan menekan biaya pengujian mutu rumput laut dalam SRG. Hal ini dinilai penting untuk mendorong peningkatan ekspor rumput laut.
 
"Pemerintah akan berkoordinasi dengan Badan Karantina Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai salah satu Lembaga Penilaian Kesesuaian Uji Mutu Ikan dalam SRG," kata Tjahya.
 
Berdasarkan data statistik perdagangan dari Trade Statistics For International Business Development, total ekspor produk agar-agar dari rumput laut dengan kode HS 1302.31 pada 2018 tercatat sebesar USD14,619 juta.
 
Ada lima negara yang menjadi tujuan ekspor utama produk agar-agar dari rumput laut pada tahun 2018 yaitu Jepang sebesar USD3,298 juta; Italia sebesar USD2,077 juta; Tiongkok sebesar USD1,555 juta; Rusia sebesar USD1,443 juta; dan Jerman sebesar USD1,387 juta.
 
Produk lainnya yang diolah dari rumput laut yakni karaginan dengan HS 1302.39. Produk tersebut berhasil diekspor Indonesia ke berbagai negara. Total ekspor karaginan pada akhir 2018 mencapai USD71,20 juta atau meningkat sebesar 87,03 persen dari tahun sebelumnya.
 
Lima negara yang menjadi tujuan ekspor Indonesia adalah Tiongkok sebesar USD28,359 juta, Amerika Serikat sebesar USD9,042 juta, Jepang sebesar USD5,09 juta, Belanda sebesar USD4,618 juta, dan Inggris sebesar USD4,264 juta.
 
Tjahya menambahkan, peningkatan ekspor nonmigas dengan mengoptimalkan pemanfaatan SRG sebagai instrumen pengamanan persediaan saat ini jadi fokus utama. Para eksportir dapat memanfaatkan SRG dalam menjamin ketersediaan komoditas baik secara volume maupun terpenuhinya standar kualitas serta meminimalkan risiko penyimpanan.
 
"Pemerintah terus mendorong pemanfaatan SRG sebagai instrumen pengamanan persediaan untuk meningkatkan ekspor nonmigas," pungkas Tjahya.
 
(ABD)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif