Hyundai. Foto : AFP.
Hyundai. Foto : AFP.

Kehadiran Hyundai Ubah Iklim Investasi di Indonesia

Ekonomi hyundai
Ilham wibowo • 02 Desember 2019 17:10
Jakarta: Rencana Hyundai Motor Company (HMC) yang resmi mengumumkan rencana menanamkan modalnya di Indonesia dinilai akan mengubah iklim investasi terutama di sektor otomotif. Pasalnya, perusahaan asal Korea Selatan itu juga diminta mengembangkan lini produksi mobil listrik di Tanah Air.
 
"Saya pikir itu langkah strategis, kemarin kami ketemu dan teken dengan Hyundai," kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia ditemui di kantor Kemenperin Jakarta Selatan, Senin, 2 Desember 2019.
 
Nilai investasi yang bakal digelontorkan Hyundai di Indonesia tercatat sebesar USD1,549 miliar atau setara Rp21,8 triliun. Nantinya sebagian dana tersebut akan digunakan untuk memproduksi kendaraan berteknologi listrik selain rencana membangun pusat penelitian dan pengembangan pada tahap kedua investasinya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada fase pertama (2019-2021) Hyundai akan berfokus pada investasi pabrik pembuatan mobil konvensional di Jawa Barat dan akan mengekspor setidaknya 50 persen dari total produksi. Fase kedua (2022-2030), Hyundai akan berfokus pada pengembangan pabrik pembuatan mobil listrik, pabrik transmisi dan 70 persen produksinya akan diekspor.
 
Investasi Hyundai di Indonesia bisa memberikan nilai tambah yang besar untuk perekonomian Indonesia termasuk penyerapan 5.000 tenaga kerja. Pihak Hyundai telah diminta agar dalam berproduksi mereka memaksimalkan penggunaan bahan baku dari Indonesia dan bekerjasama dengan pengusaha lokal seperti menggunakan bahan baterai dari Morowali.
 
"Itu adalah strategi agar bagaimana Indonesia sebagai negara yang bisa memproduksi lithium baterai," ungkap mantan Ketua Umum HIPMI ini.
 
Indonesia, kata Bahlil, memiliki cadangan bijih nikel besar sebagai bahan baku baterai atau komponen penting kendaraan listrik tersebut. Saat ini, sudah ada beberapa perusahaan yang mengembangkan industri baterai untuk mobil listrik di Morowali.
 
"Karena dari total deposit cadangan Ore Nikel di Indonesia itu salah satu yang terbesar di dunia, 25-26 persen. Nah kalau kita dorong mobil listrik maka dapat kita pastikan bahwa kita bisa membuat pabrik baterai mobil terbesar di dunia," paparnya.
 
Rencana pengembangan Mobil Listrik Indonesia telah disambut baik oleh perusahaan seperti PT PLN yang sudah menyediakan sembilan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan Grab yang telah menyatakan siap bekerjasama dalam penggunaan mobil listrik di Indonesia.
 
Beberapa pabrikan baterai kendaraan listrik asal negara-negara Asia Timur juga sedang didekati untuk membangun fasilitasi produksinya dan menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi global untuk baterai listrik.
 
"Itu yang sekarang lagi kita dorong yang kemudian itu menjadi trigger untuk proses iklim investasi Indonesia di mata dunia," pungkasnya.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif