Ilustrasi toko ritel. Foto : MI/Pujianto.
Ilustrasi toko ritel. Foto : MI/Pujianto.

Cara Departemen Store Tiongkok Bertahan di Tengah Gempuran E-Commerce

Ekonomi ritel tiongkok ecommerce
Nia Deviyana • 11 Desember 2019 14:50
Jakarta: Bagi anak muda yang bepergian ke Beijing, toko mainan di distrik komersial Wangfujing sama menariknya dengan perjalanan ke tempat-tempat seperti Forbidden City atau Summer Palace. Penuh dengan elemen menyenangkan dan mewah termasuk komidi putar, patung Spiderman dan berbagai model mobil balap.
 
Toko mainan berlantai tiga adalah Hamley, pengecer mainan tertua asal Inggris yang sudah beroperasi sejak 1760.
 
"Saya belum pernah ke toko mainan sebesar itu," kata Guo Ziwei, bocah laki-laki berusia lima tahun dari kota Harbin, bagian Timur Laut Tiongkok, yang menghabiskan satu jam di toko itu bersama orangtuanya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Membawa Hamley ke Beijing menjadi salah satu dari serangkaian langkah yang diambil oleh Beijing Department Store sebagai perusahaan milik negara menarik lebih banyak pelanggan, dan melawan penurunan penjualan karena hadirnya e-commerce dan kebiasaan belanja konsumen yang berubah.
 
Langkah-langkah lain, termasuk juga mendirikan toko online dan sistem digital untuk informasi kesediaan barangnya, yang nyatanya disambut positif oleh pelanggan.
 
Dalam tiga kuartal pertama 2019, pendapatan Wangfujing Group, perusahaan induk dari Department Store Beijing mencapai 19,4 miliar yuan atau setara USD2,76 miliar. Angka tersebut naik signifikan sebesar 6,7 miliar yuan lebih dibandingkan periode yang sama 2016.
 
Beijing Department Store yang berdiri sejak 1995 sempat berjuang bertahan hidup saat invasi e-commerce secara besar-besaran mengubah lanskap industri ritel negara tersebut.
 
Perusahaan menjual barang secara online dengan margin lebih rendah, dan konsumen Tiongkok mulai terbiasa membeli barang lewat kemudahan smartphone.
 
Menghadapi penurunan drastis akibat disrupsi, sejumlah pusat perbelanjaan di Beijing 'dipaksa' menutup atau membuat inovasi dalam beberapa tahun terakhir.
 
Pada 2017, the North Star Shopping Center di Asian Games Village (Yayuncun) ditutup. Pada April tahun ini, Department Store Chang'an yang sudah berdiri selama 29 tahun mengumumkan rencana penutupan dan renovasi.
 
Kontraksi yang terjadi pada industri ini mengkhawatirkan pemerintah setempat. Pada November, Biro Perdagangan Kotamadya Beijing mengumumkan bahwa mereka telah mendaftarkan 10 department store sebagai toko percontohan yang akan diubah model bisnisnya dan ditingkatkan, termasuk Beijing Department Store dan Chang'an Department Store.
 
Chu Zhilei, seorang pejabat di biro itu, mengatakan pemerintah akan mengimplementasikan rencana yang berbeda di 10 toko berdasarkan sejarah, lokasi, dan fungsinya yang spesifik.
 
"Belanja yang dipersonalisasi, beragam, dan disesuaikan telah menjadi tren baru. Beberapa department store tradisional Beijing yang menampilkan fungsi bisnis yang homogen dan infrastruktur yang tidak berkarakter tidak dapat memenuhi permintaan baru pelanggan," kata Chu seperti dilansir dari Xinhua, Rabu, 11 Desember 2019.
 
E-commerce telah menjadi pendorong utama pasar ritel Tiongkok. Penjualan ritel online naik 16,8 persen secara tahunan atau year on year (yoy) enjadi 7,32 triliun yuan selama periode Januari-September tahun ini. Adapun penjualan ritel online barang fisik mencapai 5,78 triliun yuan, meningkat 20,5 persen (yoy) atau memberikan kontribusi 43,7 persen terhadap kenaikan total penjualan ritel barang konsumsi.
 
Terlepas dari dampak belanja online, munculnya kompleks pusat perbelanjaan yang mengintegrasikan berbagai fungsi seperti belanja, makan, dan hiburan membuat situasi toko tradisional menjadi lebih buruk.
 
Guo Zengli, seorang ahli di organisasi riset ritel MallChina mengatakan Department Store menjadi populer pada tahap awal reformasi Tiongkok, dan berkembang pesat.
 
"Tetapi saat ini, orang mengunjungi toko fisik untuk mencari pengalaman, selain juga membeli barang," kata dia.
 
Aplikasi teknologi, diversifikasi bisnis, konsumsi, dan pengalaman menjadi tren baru dari industri. Sekitar 59,6 persen dari department store dan pusat perbelanjaan yang disurvei telah menjalankan bisnis e-commerce, sementara 77,9 persen telah mencoba program meningkatkan pengalaman berbelanja bagi konsumen.
 
"Department store masih punya peluang besar untuk pertumbuhan. Kuncinya adalah menemukan cara untuk berubah. Semakin cepat pengecer beradaptasi dengan perilaku konsumsi masyarakat yang berubah, semakin besar kemungkinan mereka dapat memahami inisiatif kompetisi yang sengit," kata Guo.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif