Ilustrasi. (FOTO: MI/Agus)
Ilustrasi. (FOTO: MI/Agus)

3 Faktor Pemicu Maskapai Berbiaya Murah Berani Naikkan Tarif

Ekonomi bisnis maskapai
Desi Angriani • 15 Januari 2019 14:21
Jakarta: Pengamat Penerbangan Alvin Lie menilai ada sejumlah faktor yang mengakibatkan maskapai penerbangan bertarif rendah atau low-cost carrier (LCC) berani menaikkan tarif tiket penerbangannya.
 
Pertama, persaingan harga dalam dua tahun terakhir memaksa maskapai berbiaya murah saling banting harga. Hal ini tentu membuat perseroan kehabisan modal lalu mencoba kembali ke harga normal dengan mengikuti tarif batas atas yang ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
 
"Pemicunya itu banyak, selama ini airlines Indonesia itu masih banting-bantingan harga. Ya airlines rugi pun tetap jalan tapi lama-lama kan juga modalnya makin tipis," katanya saat dihubungi Medcom.id, Selasa, 15 Januari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Faktor kedua mahalnya biaya bahan bakar pesawat atau avtur yang disertai anjloknya nilai tukar rupiah, turut memengaruhi kenaikan harga tiket pesawat. Mengutip data Pertamina Aviation, avtur di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang dibanderol seharga USD61,80 sen atau Rp8.920 per liter.
 
Harga ini belum termasuk PPN 10 persen dan pajak penghasilan 0,3 persen. Per barelnya, harga avtur berada di kisaran USD65-USD70. Sementara mata uang Garuda tahun lalu terus keok hingga mencapai Rp15 ribu per USD. Mau tidak mau maskapai akan menaikkan harga demi menutupi beban operasional yang membengkak tersebut.
 
"Mahalnya avtur dan nilai rupiah juga turut berdampak pada kenaikan tiket," imbuhnya.
 
Baca: Aturan Main Penerapan Biaya Bagasi Maskapai Penerbangan
 
Selanjutnya, kenaikan tarif maskapai LCC ini juga mengikuti pola penghitungan tarif yang digunakan oleh Garuda. Sejak Oktober lalu, salah satu maskapai pelat merah ini tak lagi menggunakan strategi harga fleksibel alias kembali mematok tarif pada kelas ekonomi tertinggi.
 
Dengan kata lain, maskapai berbiaya murah tak akan berani menaikkan tarif penerbangannya selama Garuda tidak melakukan hal serupa. "Garuda kan price leader, kalau Garuda enggak naik yang lain juga enggak naikkan. Karena kalau Garuda enggak naik, yang lain naik, maka semua bisa pindah ke Garuda kan. Nah giliran Garuda naik ke taraf tertinggi, yang bawah berani nyodok ke atas," ungkap dia.
 
Namun demikian kenaikan tersebut masih sesuai dengan batas bawah dan batas atas kelas ekonomi yang ditetapkan sebesar 5-35 persen. Misalnya Jakarta-Malang berjarak 682 km, batas atasnya ditentukan Rp1.898.000, dan batas bawahnya Rp569 ribu.
 
Karenanya harga tiket rute Jakarta-Malang yang kini menjadi Rp1,5 juta untuk satu kali berpergian dianggap wajar. Hanya saja masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan tarif batas bawah sehingga kembalinya harga ke tarif normal terasa memberatkan.
 
"Kalau yang biasa naik Garuda dan Batik sudah biasa dengan harga segitu. Yang biasa naik Lion dan Sriwijaya ya kaget," terang Alvin.
 
Adapun seluruh maskapai nasional yang tergabung dalam Indonesia National Air Carrier Association (INACA) akhirnya sepakat untuk menurunkan tarif tiket penerbangan domestik hingga 60 persen. Harga tiket pesawat yang sudah diturunkan setara dengan tarif tiket sebelum musim liburan Natal dan Tahun Baru 2019.
 
Ada enam rute penerbangan domestik yang mengalami penurunan tarif yakni rute Jakarta-Denpasar, Jakarta-Yogyakarta, Bandung-Denpasar, dan Jakarta-Surabaya. Penurunan harga juga akan disusul oleh rute domestik lainnya seperti Jakarta-Padang, Jakarta-Pontianak, dan Jakarta-Jayapura.
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi