Asuransi Jiwasraya 'Tersandera' Persoalan Kekurangan Likuiditas

Eko Nordiansyah 18 Oktober 2018 20:16 WIB
Jiwasraya
Asuransi Jiwasraya 'Tersandera' Persoalan Kekurangan Likuiditas
OJK (MI/RAMDANI).
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut permasalahan yang terjadi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) sudah terlihat sejak kuartal I-2018. Akar permasalahan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut adalah likuiditas yang tidak seimbang antara pendapatan premi serta hasil investasi perusahaan.

"Pas bulan ketiga (kuartal I) kita lihat preminya kok segini," kata Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non-Bank II OJK Mochammad Ichsanuddin ditemui di Kantor Pusat Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Gedung Permata Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis, 18 Oktober 2018.

Dirinya menambahkan, berdasarkan laporan bulanan Jiwasraya, produk saving plan turun tajam. Kondisi ini menjadi awal mula mengapa Jiwasraya tak mampu membayar premi kepada para pemegang polisnya.

"Waktu 2017 total premi termasuk saving plan kan sampai Rp21,9 triliun. Nah ketika itu sudah memasuki bulan keempat (April 2018) baru sekitar Rp3 triliun. Bahkan sampai saat ini, pendapatan premi Jiwasraya masih di bawah Rp8 triliun alias masih jauh dari realisasi tahun lalu," jelas dia.

Menurut dia, masalah likuiditas tidak hanya akan menganggu bisnis perusahaan asuransi seperti Jiwasraya. Jika hal yang sama terjadi pada perbankan, maka mereka juga akan kesulitan karena harus mengembalikan dana yang disimpan oleh debiturnya.

"Jangankan asuransi, bank sehatnya juga kalau ramai ngambil tabungan sama deposito, enggak ada duit. Wong duitnya disalurin kredit yang jangkanya panjang. Apalagi kalau KPR, bagaimana? Tentu akan mengalami kesulitan likuditas," pungkasnya.

Jiwasraya sebelumnya menyatakan sedang menghadapi tekanan likuiditas. Alhasil, perusahaan asuransi BUMN ini menunda pembayaran polis jatuh tempo produk JS Proteksi Plan kepada sejumlah nasabah dan berjanji akan segera membayar bunga kepada 1.286 pemegang polis yang telah jatuh tempo. Nilainya mencapai Rp96,58 miliar.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id