Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo. (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)
Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo. (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)

Risiko Eksternal Jadi Alasan BI Tahan Suku Bunga

Ekonomi bank indonesia suku bunga
Husen Miftahudin • 19 Juli 2019 20:05
Medan: Bank Indonesia (BI) akhirnya memangkas suku bunga acuan atau BI 7-Days Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen untuk periode Juli 2019. Posisi ini bergerak setelah bank sentral menahan suku bunga acuan di level enam persen selama tujuh bulan, dari November 2018.
 
Banyak kalangan yang menanti pelonggaran kebijakan moneter dari otoritas. Apalagi data-data ekonomi makro seperti proyeksi pertumbuhan ekonomi dan capaian inflasi sudah membaik dalam beberapa bulan sebelumnya.
 
Menjawab hal tersebut, Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengaku pihaknya punya banyak pertimbangan sebelum akhirnya melakukan pelonggaran kebijakan moneter. Dalam hal ini, risiko eksternal paling dipertimbangkan Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan moneternya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kenapa BI tidak menurunkan bunga padahal inflasi bagus, perekonomian bagus? Karena kita juga masih melihat risiko eksternal, masih ada ketidakpastian dari eksternal," jelas Dody dalam Pelatihan Wartawan Ekonomi di Hotel Adimulia, Medan, Jumat, 19 Juli 2019.
 
Dody menambahkan BI sebenarnya sudah melakukan persiapan penurunan suku bunga sejak dua hingga tiga bulan sebelumnya. Langkah itu dilakukan melalui pelonggaran likuiditas dengan menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) sebanyak 50 bps untuk bank umum dan bank syariah.
 
"Untuk meningkatkan permintaan domestik termasuk investasi perlu ditingkatkan di tengah perlambatan ekonomi. Strategi operasi moneter untuk memastikan ketersediaan likuiditas yang dipasok BI ke perbankan," jelas dia.
 
Dia mengungkapkan kondisi eksternal seperti ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dn Tiongkok turut mempengaruhi pelemahan ekonomi global. Hal ini menyebabkan negara-negara mitra dagang dua negara besar tersebut harus waspada dengan risiko perang dagang tersebut.
 
"Ini menjadi gambaran yang pasti bagi kita terkait ketidakpastian, ekonomi global akan slowing. Risiko itu kita hadapi dengan melakukan cutting suku bunga," tuturnya.
 
Ke depan, Bank Indonesia akan terus mendorong permintaan domestik termasuk investasi demi memitigasi perlambatan ekonomi dunia. "Strategi operasi moneter tetap diarahkan untuk likuiditas. Kita perlu meyakini eksternal stability tetap ada, sehingga lebih terukur dan lebih pasti," pungkas Dody.
 
Selain memangkas suku bunga acuan, Rapat Dewan Gubernur (RDG) kemarin juga memotong suku bunga deposit facility dan lending facility masing-masing sebesar 25 bps. Sehingga, suku bunga deposit facility menjadi lima persen dana suku bunga lending facility menjadi 6,50 persen.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif