Ilustrasi. (FOTO: dok MI)
Ilustrasi. (FOTO: dok MI)

Mahata Bakal Bayar Rp423,6 Miliar ke Garuda Bulan Depan

Ekonomi garuda indonesia
Suci Sedya Utami • 28 Juni 2019 16:13
Jakarta: PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menyatakan PT Mahata Aero Teknologi dan mitra barunya telah berkomitmen memberikan pembayaran secara tertulis dan disaksikan oleh notaris.
 
Vice President Corporate Secretary Ikhsan Rosan mengatakan komitmen pembayaran sebesar USD30 juta atau setara Rp423,6 miliaryang akan dibayarkan pada Juli tahun ini atau dalam waktu yang lebih cepat. Komitmen tersebut yang selama ini dipermasalahkan oleh beberapa pihak, karena dianggap piutang namun telah dimasukkan dalam laporan keuangan Garuda Indonesia 2018 sebagai pendapatan yang belum diterima.
 
"Sementara sisa kewajiban akan dibayarkan ke Garuda Indonesia dalam waktu tiga tahun dan dalam kurun waktu tersebut akan dikover dengan jaminan pembayaran dalam bentuk Stand by Letter Credit (SBLC) dan atau Bank Garansi bank terkemuka," kata Ikhsan saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat, 28 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ikhsan menegaskan kerja sama inflight connectivity ini merupakan bagian dari upaya Garuda Indonesia untuk terus meningkatkan layanan kepada para pengguna jasa berupa penyediaan wifi secara gratis. Garuda Indonesia juga tidak mengeluarkan uang sepeser pun dalam kerja sama ini.
 
Dia bilang kerja sama ini sudah menjadi program Garuda Indonesia guna mendapatkan tambahan revenue (ancillary) dari sisi pendapatan iklan untuk menyubsidi silang terhadap harga tiket. Sehingga nantinya harga tiket Garuda Indonesia akan lebih terjangkau dan dapat menjawab keluhan masyarakat luas atas mahalnya harga tiket.
 
Ikhsan mengatakan Garuda Indonesia akan terus melaksanakan dan menyempurnakan kerja sama ini. Sebab kerja sama ini akan menguntungkan Garuda Indonesia mengingat potensi ancilary revenue yang akan terus berkembang seiring dengan meningkatnya jumlah penumpang Garuda Indonesia group yang saat ini berjumlah lebih kurang 50 juta per tahunnya.
 
Sebelumnya kerja sama antara Garuda dan Mahata sebagai penyedia layanan entertainment dalam penerbangan atau wifi on board menjadi polemik. Sebab Garuda memasukkan pendapatan dari kerja sama tersebut ke dalam laporan keuangan di 2018 yang sebenarnya belum dibayarkan Mahata.
 
Kisruh ini bermula saat dua komisaris Garuda Indonesia yang mewakili PT Trans Airways dan Finegold Resources Ltd sebagai pemenang saham yakni Chairul Tanjung dan Dony Oksaria tidak menyetujui laporan keuangan Garuda Indonesia di 2018. Keduanya keberatan lantaran Garuda memasukkan penghasilan dari kerja sama dengan PT Mahata Aero Teknologi untuk 15 tahun ke depan yang sebetulnya belum dibayar.
 
Dalam kontrak 15 tahun tersebut Garuda Indonesia Group mendapatkan pendapatan tambahan sebesar USD241,9 juta sebagai kompensasi hak pemasangan peralatan layanan konektivitas dan hak pengelolaan layanan in-flight entertainment. Jumlah tersebut dimasukkan sebagai bagian dari penghasilan Garuda di 2018.
 
Direktur Keuangan dan Manajemen dan Risiko Garuda Indonesia Fuad Rizal mengatakan berdasarkan Pernyataan Standard Akuntansi Keuangan (PSAK) 23, pendapatan yang berasal dari Mahata untuk penyediaan layanan hiburan dan konektivitas dalam penerbangan (wi-fi on board) dimungkinkan untuk dicatatkan dalam laporan keuangan perseroan tahun lalu.
 
Fuad menjelaskan pendapatan memang harus dicatatkan sebagai rugi atau laba. Pada saat pendapatan tersebut belum diberikan maka dicatatkan sebagai piutang. Namun dalam kasus ini, pendapatan yang belum dicatatkan tersebut berdasarkan basis penghitungan akrual yang telah diaudit oleh auditor independen memperbolehkan memasukkannya pada laporan keuangan sebagai keuntungan.
 
"Itu dimungkinkan untuk dicatatkan di 2018 walaupun belum ada pendapatan yang diterima," tutur Fuad.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif