Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani. FOTO: Medcom.id/Suci Sedya Utami
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani. FOTO: Medcom.id/Suci Sedya Utami

Apindo: Omnibus Law Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi hingga 6%

Ekonomi Omnibus Law
Antara • 24 Januari 2020 12:02
Jakarta: Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menilai penerapan omnibus law dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga mencapai enam persen. Tentu harapannya dengan pertumbuhan yang tinggi itu bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
 
"Saya yakin kalau efektif satu tahun sejak diundangkan, pertumbuhan ekonomi kita akan lebih dari enam persen. Yakin. Karena itu yang selama ini engine pertumbuhan kita berat banget, semua yang tadinya tidak produktif, menjadi produktif," kata Hariyadi, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Jumat, 24 Januari 2020.
 
Hariyadi menjelaskan bahwa Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan industri manufaktur menjadi sektor yang diprediksi tumbuh signifikan dengan penerapan omnibus law. Menurut dia, omnibus law yang tengah dimatangkan pemerintah ini tidak hanya membuka akses investasi ke dalam negeri saja.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Akan tetapi juga akan menciptakan lapangan pekerjaan. Sektor UKM diperkirakan mengalami transformasi besar-besaran dan menyerap banyak tenaga kerja. Selain pada UKM, angkatan kerja Indonesia yang saat ini jumlahnya sekitar 130 juta orang, akan banyak terserap pada industri manufaktur.
 
Industri ini diprediksi bahkan memberikan kontribusi hingga 30 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional. "Sekarang itu indeks manufaktur kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi sekitar 24 persen. Kalo itu (Omnibus Law) terjadi, bisa lebih dari itu. Saya rasa bisa ke 30 persen mungkin," ujar dia.
 
Hariyadi menambahkan industri manufaktur akan mengalami konversi di mana perusahaan besar tidak lagi menjadi pemain utama dalam industri ini, melainkan UKM. Sebagian besar proses produksi barang akan dikerjakan oleh UKM, sementara perusahaan manufaktur akan lebih fokus ada sistem manajemen dan pemasaran, serta berperan sebagai offtaker.
 
"Ini sudah mulai terjadi. Pemainnya adalah usaha UKM, yang tadinya mereka pemain besar bidang ini, mereka akan lebih kepada menjaga kualitas dan mengambil barang offtaker, tetapi udah tidak mau pegang produksinya lagi," pungkas Hariyadi.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif