Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kanan). Foto: dok Kemenperin.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kanan). Foto: dok Kemenperin.

LG Chemical Setuju Investasi Rp32,4 Triliun di Indonesia

Ekonomi kementerian perindustrian indonesia-korsel
Nia Deviyana • 21 November 2019 15:18
Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menggaet dua perusahaan Korea Selatan (Korsel) untuk memasok kebutuhan industri nasional. Sebab, Korsel memiliki sejumlah korporasi yang telah berperan dalam rantai pasok global.
 
"Salah satu perusahaan dari Korsel, yakni LG Chemical, telah menyampaikan minatnya untuk berinvestasi membangun pabrik baterai terintegrasi di Indonesia, yang meliputi pabrik baterai sel, baterai modul, hingga fasilitas daur ulang baterai," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita melalui keterangan resminya, Kamis, 21 November 2019.
 
Adapun Agus bersama jajaran melakukan one on one meeting dengan direksi LG Chemical. Dari hasil pertemuan tersebut, LG Chemical berkomitmen menanamkan investasinya senilai USD2,3 miliar atau setara Rp32,4 triliun (kurs Rp14.100 per USD). "LG ingin melakukan investasi di ASEAN. Indonesia merupakan salah satu yang menjadi fokus," ungkap Agus.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Agus, LG Chemical sudah melakukan kajian-kajian awal agar investasinya di Indonesia dapat sukses dan sesuai rencana. Korporasi raksasa asal Negeri Ginseng itu juga menyampaikan keinginannya untuk melakukan studi terkait penggunaan baterai listrik pada sepeda motor dalam mendukung penggunaan kendaraan ramah lingkungan di Indonesia.
 
"LG berniat untuk melakukan penelitian dan mendukung studi, melakukan kajian-kajian untuk kendaraan, terutama sepeda motor listrik," paparnya.
 
Agus pun mengungkapkan, pihaknya menyambut baik rencana LG tersebut dan menyarankan untuk memilih Surabaya, Jawa Timur sebagai wilayah yang akan diuji coba dengan penggunakan motor berbaterai besutan LG Chemical.
 
"Surabaya sangat ingin untuk mendukung lingkungan yang sehat. Ini merupakan satu kesatuan yang diharapkan sesuai dengan harapan LG dan Indonesia, yang sama-sama saling menguntungkan," ujarnya.

Substitusi Impor

Agus menambahkan, Kemenperin tengah melakukan penjajakan peluang investasi sektor industri dari perusahaan-perusahan top di Korsel yang belum memiliki kegiatan produksi di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan substitusi produk impor. Salah satu yang telah dijajaki adalah SK Group.
 
"SK Group sangat antusias berinvestasi di Tanah Air, pada sektor industri. Mereka akan mengirimkan timnya untuk fokus menentukan industri mana yang akan mereka pilih dan mencari mitra di dalam negeri untuk bekerja sama membangun industri," tuturnya.
 
Agus berharap, SK Group bisa mengembangkan industri petrokimia di Indonesia Tanah Air. Hal ini bertujuan agar menekan impor produk petrokimia yang dibutuhkan untuk bahan baku industri di dalam negeri.
 
"Untuk itu, mereka sedang mempelajari kemungkinan untuk menanamkan modalnya di Tanah Air," terangnya.
 
Saat ini, SK Group bergerak pada tiga kelompok bisnis, yakni energi dan kimia (45 persen), komunikasi dan teknologi informasi(ICT) dan semi konduktor (37 persen), serta jasa dan logistik (18 persen).
 
"Kami mengejar investasi sektor petrokimia sebagai upaya menyubstitusi produk impor untuk kebutuhan dalam negeri," tegasnya.
 
Hampir enam juta ton kebutuhan bahan baku petrokimia diserap pasar dalam negeri, sementara pasokan produksi dari domestik hanya sanggup memenuhi dua juta ton.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif