Ilustrasi. FOTO: dok MI.
Ilustrasi. FOTO: dok MI.

Kelanjutan 20 Ribu Ton Beras Bulog Rusak Dibahas di Rakortas

Ekonomi beras kementerian perdagangan bulog
Ilham wibowo • 04 Desember 2019 12:27
Jakarta: Sebanyak 20 ribu ton beras cadangan pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog dipastikan telah mengalami turun mutu untuk bisa dikonsumsi masyarakat. Kebijakan disposal stck atau pembuangan beras tersebut rencananya akan diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas di Kemenko Perekonomian.
 
"Ini 20 ribu ton beras sudah agak lama ya, kita akan evaluasi, kemungkinan hari ini juga ada ratas mengenai hal tersebut. Mudah-mudahan kita dapatkan solusinya dari hal-hal masalah beras ini," kata Menteri Perdagangan Agus Suparmanto ditemui di Balai Kartini, Jakarta, Rabu, 4 Desember 2019.
 
Agus belum memastikan keputusan beras tersebut akan diolah kembali menjadi produk lain atau langsung dilelang. Keputusan yang diambil akan mempertimbangkan masukan dari masing-masing pimpinan lembaga yang berkaitan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Hari ini ada pembahasan, coba nanti lihat sore ya, karena ini akan dibahas dengan kementerian lain," kata Agus.
 
Sebelumnya Perum Bulog memastikan akan melelang 20 ton beras yang mengalami turun mutu tersebut. Stok beras yang tak sempat terserap dari alokasi CBP itu nilainya mencapai Rp160 miliar.
 
Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan beras sebanyak itu memang sudah tidak layak dikonsumsi manusia akan tetapi masih bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak atau bahan baku produksi ethanol. Pemanfaatan ini dikakukan untuk menjaga nilai komoditas tersebut.
 
"Kami akan lelang semua beras yang turun mutu. Tapi kami akan pastikan itu jadi pakan atau bahan baku industri. Nanti ada perjanjiannya, tidak boleh sampai jadi beras lagi," kata Budi di kantor Bulog, Jakarta Selatan, Selasa, 3 Desember 2019.
 
Skema pelepasan melalui lelang, lanjut dia, tetap dianggap sebagai disposal karena masuk dalam skema pelepasan. Penyelenggaraannya harus melalui rapat koordinasi terbatas yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
 
Nantinya, hasil penjualan lelang akan dilaporkan kepada Kementerian Keuangan dan pemerintah akan membayar selisih antara harga pembelian dan harga lelang. Peminat beras turun mutu itu pun termasuk banyak di beberapa daerah.
 
"Misalnya kita beli beras Rp8.000 per kilogram (kg), terus kita jual lelang Rp3.000 per kg. Itu kan ada selisihnya Rp5.000, dikali 20 ribu ton. Itu yang dibayar," jelas dia.
 
Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog Tri Wahyudi Saleh menjelaskan sesuai Permentan 38/2018 seluruh stok Bulog bisa dilakukan disposal apabila telah tersimpan selama empat bulan atau ketika dinyatakan tidak layak konsumsi. Saat ini, sudah ada 100 ribu ton yang masuk katagori di atas lima bulan akan tetapi baru 20 ribu ton yang dinyatakan tidak layak konsumsi langsung manusia.
 
"Bisa diolah kembali, bisa diubah menjadi tepung dan yang lain, atau produk turunan beras atau dihibahkan bahkan dimusnahkan," paparnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif