Ilustrasi (MI/Aries Munandar)
Ilustrasi (MI/Aries Munandar)

Uni Eropa Ingin Sawit Indonesia Punya Standar

Ekonomi minyak sawit kelapa sawit
Ilham wibowo • 25 Juli 2019 08:32
Jakarta: Komoditas produk kelapa sawit asal Indonesia diakui masih sangat dibutuhkan di Uni Eropa (UE). Hanya saja, produk yang diinginkan perlu memiliki standar mutu dan proses produksi yang baik.
 
Head of Trade Section Delegation of The European Union to Indonesia and Brunei Raffaele Quarto mengatakan pihaknya sangat fokus terhadap kelestarian lingkungan. Sertifikasi terhadap produk kelapa sawit Indonesia pun menjadi penting dilakukan menyeluruh hingga ke petani kecil.
 
"Eropa membutuhkan minyak kelapa sawit karena masuk dalam makanan dan banyak produk, ada pasar di Eropa dan kami terus jaga," kata Raffale ditemui usai acara diskusi di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu, 24 Juli 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mendukung Pemerintah Indonesia yang tengah melakukan sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan atau Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Pasalnya realisasi sertifikasi untuk kebun milik petani rakyat cenderung masih rendah. Padahal area sawit milik petani rakyat mencakup 45 persen dari total luas kebun sawit di Indonesia yang mencapai 14 juta hektare.
 
"Kami bekerja banyak dengan Indonesia dalam membuat semua sertifikasi menjadi standar yang baik dan keberlanjutan. Saat ini ada produsen yang disertifikasi tetapi juga produsen yang tidak, jadi kita harus memastikan mereka telah disertifikasi," ungkapnya.
 
Secara keseluruhan, total sertifikat ISPO yang terbit tercatat berjumlah 502 dengan luas area mencapai 4,12 juta ha atau baru mencakup 29,3 persen dari total luas kebun sawit di Tanah Air. Raffale memahami proses sertifikasi ini butuh waktu. Ia percaya Pemerintah Indonesia bisa merealisasikan seluruh target ISPO pada 2020.
 
"Penting bagi Indonesia produksinya secara berkelanjutan sehingga dampaknya terhadap lingkungan bisa dikendalikan," tuturnya.
 
Standarisasi produk kelapa sawit yang keberlanjutan ini juga jadi topik dalam negosiasi perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA) yang kini sudah memasuki putaran kedelapan. Masalah kelapa sawit diyakini bisa diselesaikan dengan baik.
 
"Pertanian khususnya kecil, mereka harus memiliki kemungkinan bagi mereka untuk bekerja dalam kondisi baik. Kami menginginkan minyak kelapa sawit tetapi kami harus membuat produk yang berkelanjutan," ucapnya.
 
Vice Chairman Euro Chamber Wichard von Harrach menuturkan pelaku usaha kelapa sawit Indonesia harus lebih aktif menerapkan strategi pemasaran yang tepat di Uni Eropa. Kampanye hitam sawit Indonesia diyakini bisa dihalau lantaran sawit dibutuhkan pada banyak produk.
 
"Seluruh produsen sawit harus menjelaskan kepada konsumen Uni Eropa apa yang mereka kerjakan terkait keberlanjutan karena mereka tidak bisa mengharapkan pemerintah mendorong penggunaan sawit," tutup dia.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif