Gas alam. Foto : Kementerian esdm.
Gas alam. Foto : Kementerian esdm.

Pemerintah Jamin Pasokan Gas untuk Industri Pupuk-Petrokimia Aman

Ekonomi pupuk
Suci Sedya Utami • 05 Desember 2019 20:36
Jakarta: Pemerintah menjamin pemenuhan kebutuhan gas untuk industri di dalam negeri utamanya industri pupuk dan petrokimia. Tujuh proyek gas besar yang beroperasi dalam beberapa tahun ke depan berpotensi menjadi sumber gas bagi industri ini.
 
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto mengatakan beberapa pabrik pupuk memang masih sulit mendapatkan gas, salah satunya PT Pupuk Iskandar Muda (PIM).
 
Pasalnya, sumber gas yang ada di wilayah ini memang mulai habis. Sebagai gantinya, pemerintah menutup kebutuhan gas pabrik pupuk ini menggunakan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dengan resiko harga gas yang cukup tinggi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Djoko menambahkan bahwa pabrik pupuk di beberapa wilayah bisa memperoleh gas dengan harga kompetitif seperti PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT), PT Pupuk Kujang Cikampek (PKC), PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri), dan PT Petrokimia Gresik. Bahkan, PKT bisa memperoleh gas dengan harga di bawah USD5 per juta british thermal unit (mmbtu).
 
Ke depannya, pabrik pupuk bisa memperoleh gas dari pasokan yang saat ini diekspor melalui pipa ke Singapura dan Malaysia. Sebab pemerintah ke depan akan menyetop untuk memasok gas ke negara tetangga demi pemenuhan kebutuhan industri.
 
“Di 2022, pabrik pupuk sudah butuh, sementara ekspor gas melalui pipa dari wilayah kerja di Natuna dan Lapangan Grissik akan selesai. Jadi, Pupuk Kujang dan Sriwidjaja bisa pakai ini,” kata Djoko dalam rapat dengar pendapat dengan Ditjen Migas, SKK Migas dan BUMN Pupuk di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 5 Desember 2019.
 
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto menambahkan pasokan gas untuk PIM memang harus menunggu pengembangan beberapa blok migas di wilayah tersebut. Adanya pasokan gas langsung dari pipa diharapkan bisa memangkas harga gas ke PIM.
 
“Ke depan, kami diskusi agar harganya bisa ditekan dengan memanfaatkan (sumber) lain. Potensi ada di Blok Andaman I, II, dan III. Dari data yang ada, potensinya bagus,” kata Dwi.
 
Dwi menjabarkan terdapat tujuh proyek gas yang bisa menjadi sumber gas bagi industri pupuk dan petrokimia. Total potensi pasokan gas ini mencapai 1.167 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/mmscfd). Ketujuh proyek gas ini akan mulai memproduksi gas pada periode 2023-2027.
 
“Di Sumatera Selatan ada Proyek Sakakemang oleh Repsol SA (mulai produksi) di 2021 sebesar 300 mmscfd, ini bisa dipercepat sebagian,” ujarnya. Pembeli gas ini adalah Pupuk Indonesia.
 
Selanjutnya, Proyek PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Nunukan 90 mmscfd mulai 2024 dengan pembeli PT Karya Mineral Jaya. Proyek gas di Area Bontang dan Indonesia Deepwater Development (IDD) 100 mmscfd mulai 2023 dengan pembeli PT Kaltim Methanol Industri (KMI) dan Kaltim Pharma Industri (KPI). Proyek Cendana dan Alas Tua oleh PT Pertamina EP Cepu 150 mmscfd mulai 2023.
 
Kemudian, Proyek Kilang Tangguh Train III untuk industri petrokimia masing-masing sebesar 90 mmscfd untuk tahap I di 2022 dan tahap II di 2026. Proyek Kasuri oleh Genting Oil dengan pembeli industri petrokimian sebesar 197 mmscfd mulai 2023. Terakhir, Proyek LNG Abadi sebesar 150 mmscfd di 2027 dan akan dipercepat.
 
Dwi mengakui seluruh produksi gas nasional bisa dipakai di dalam negeri. Namun, hal ini tergantung kesiapan dan kemampuan industri domestik menyerap pasokan gas tersebut. Tak hanya itu, kesiapan infrastruktur distribusi gas juga penting.

 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif