Ilustrasi. Kartopawiro, 90, memetik daun tembakau di perkebunan tembakau di Desa Jrakah, Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Foto: MI/Immanuel Antonius
Ilustrasi. Kartopawiro, 90, memetik daun tembakau di perkebunan tembakau di Desa Jrakah, Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Foto: MI/Immanuel Antonius

Budayawan Lawan Tekanan Terhadap Produk Tembakau

Ekonomi tembakau
Husen Miftahudin • 30 Mei 2019 00:57
Jakarta: Budayawan Mohamad Sobary menyatakan perlawanannya atas tekanan terhadap produk tembakau. Hal itu dilakukan untuk menyelamatkan hasil pertanian tembakau yang merupakan komoditas utama Kabupaten Temanggung.
 
Menurut Sobary, produk-produk hasil tembakau terus mengalami tekanan secara regulatif. Oleh karena itu ia menyodorkan tiga perlawanan terhadap tekanan produk tembakau.
 
"Di antaranya perlawanan secara politis, perlawanan secara akademis, dan yang ketiga perlawanan yang harus kita lakukan yakni perlawanan dengan guyon," ujar Sobary dalam keterangannya, Jakarta, Rabu, 29 Mei 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sobary bilang, perlawanan guyon dilakukan para budayawan lewat joke dan sindiran. "Jadi, nanti nyinyir dan nganyelke. Mereka yang menekan jadi marah tapi tidak bisa menuntut," jelas dia.
 
Selain itu, perlawanan terhadap tekanan produk tembakau dilakukan lewat jalur politik. Dalam hal ini, Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) dan sejumlah politisi telah melakukan perlawanan secara politik.
 
Perlawanan lainnya diberikan dari sisi seni dan budaya. Model perlawanan ini diberikan melalui hasil karya seni yang diolah sedemikian rupa untuk membawa misi-misi pertanian dan pertembakauan.
 
"Orang Temanggung jago bikin karya seni seperti sendratari atau jathilan. Ini bisa diolah untuk melakukan pembelaan terhadap pertanian tembakau," tegas Sobary.
 
Sementara itu, Bupati Temanggung Muhammad Al Khadziq berpendapat gelombang kampanye anti tembakau seperti tak punya taji. Pasalnya, tembakau di mata masyarakat Kabupaten Temanggung bukan hanya masalah ekonomi.
 
"Tembakau adalah bagian dari harga diri masyarakat Temanggung itu sendiri. Jika harga tembakau miring, rasa percaya diri masyarakat akan terseok-seok. Sebaliknya jika harga naik, rasa percaya diri orang Temanggung akan dengan sendirinya naik," imbuh dia.
 
Al Khadziq mendorong persoalan tembakau menjadi isu nasional lantaran isu ini tak hanya bergolak di Temanggung. Oleh karena itu tembakau harus bisa duduk setara dengan komoditi lain seperti bawang, kopi, hingga cabai.
 
Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) APTI Agus Parmuji menambahkan, sebagai representasi dari petani pihaknya terus melakukan pendampingan dan perlawanan terhadap tindakan represif secara kebijakan terhadap tembakau.
 
"Kami akan melkukan berbagai langkah untuk melindungi tembakau dan produk tembakau," pungkas Agus Parmuji.
 

(DMR)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif