Illustrasi. MI/ARYA MANGGALA.
Illustrasi. MI/ARYA MANGGALA.

Pelaku Diminta Inovatif Hadapi Pasar E-Commerce

Ekonomi e-commerce
Husen Miftahudin • 26 Maret 2019 20:09
Jakarta: Director Consulting Deloitte Southeast Asia Stanley Kyung Sup Song berharap pelaku bisnis belanja daring atau e-commerce harus terus melakukan inovasi. Besarnya potensi pasar e-commerce membuat para pelaku harus bisa menyusun strategi demi menjaga loyalitas konsumen.
 
Menurut Stanley pertumbuhan e-commerce Indonesia di masa yang akan datang membuat konsumen akan mencari berbagai variasi penawaran. Apabila terdapat tawaran yang dianggap cukup menguntungkan, konsumen akan mudah beralih dari produk yang biasa mereka beli.
 
"Kesimpulan penelitian memprediksi pertumbuhan dan dinamika kompetisi sektor e-commerce di Indonesia akan menunjukkan perubahan. Oleh karena itu, penting bagi pelaku e-commerce untuk semakin menguatkan loyalitas konsumennya," ujar Stanley dalam media briefing dengan tema 'Consumer Behaviour in the Digital Market' di GoWork Plaza Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa, 26 Maret 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Stanley bilang inovasi dan peningkatan layanan kepada masyarakat akan mendorong berkembangnya sektor e-commerce. Apalagi sektor ini diyakini bakal menjadi andalan bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
 
"Selain infrastruktur untuk internet, sumber daya manusianya juga harus dibenahi supaya layanan e-commerce benar-benar maksimal," tegas dia.
 
Pemerintah memprediksi potensi pasar e-commerce akan terus tumbuh hingga USD20 miliar pada 2020. Sementara berdasarkan ramalan Bank Indonesia (BI), ekonomi digital bakal menyumbang USD155 miliar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan pertumbuhan tenaga kerja sebanyak 3,7 juta orang pada 2025.
 
Hal tersebut senada dengan hasil penelitian Deloitte Consumer Insights Survey 2018. Sektor ekonomi digital seperti e-commerce diperkirakan menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi RI ke depan.
 
Selain itu kajian Deloitte Consumer Insights Survey 2018 juga menunjukkan tren pengguna e-commerce yang tumbuh lebih dari dua kali lipat, dari 17 persen pada 2016 menjadi 42 persen pada 2017. Namun pada 2018 pengguna e-commerce tumbuh melambat dengan total presentase sebanyak 41 persen.
 
Stanley menuturkan hasil kajian itu menyimpulkan bahwa lima kota besar yang disurvei yakni Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, dan Makassar, mayoritas menjadi pengguna e-commerce. Makanya perusahaan-perusahaan e-commerce harus melakukan inovasi untuk memenangkan persaingan.
 
"Jadi perusahaan-perusahaan besar itu melakukan sesuatu yang baru untuk menarik pemakai-pemakai. Kalau dia cuma strateginya seperti itu, kebanyakan mungkin orang sudah biasa aja atau kemungkinan turun," pungkas Stanley.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif