Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita. (FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo)
Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita. (FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo)

Menggenjot Pasar Nontradisional Baru

Ekonomi kementerian perdagangan
Andhika Prasetyo • 26 Desember 2018 17:08
Jakarta: Pemerintah terus mengepakkan sayap mencari pasar-pasar nontradisional potensial guna mendongkrak kinerja perdagangan.

Sejak awal tahun, Kementerian Perdagangan (Kemendag) sudah merambah berbagai negara untuk menawarkan atau meningkatkan kerja sama yang tentunya akan memberikan manfaat bagi seluruh pihak.

India menjadi negara tujuan pertama di 2018. Dalam kunjungan itu, total transaksi potensial yang disepakati sebesar USD2,16 miliar. Kemudian, perjalanan berlanjut ke Iran, di mana total transaksi mencapai USD6,6 miliar.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Misi dagang pun masih terus berlanjut ke Selandia Baru, Bangladesh, dan Taiwan. Dalam tugas tersebut, pemerintah tentu tidak sekedar melakukan jual beli barang dan jasa dengan negara tujuan. Lebih jauh dari itu, pemerintah berupaya menciptakan perjanjian kerja sama baru yang akan memberikan berbagai kemudahan dan keuntungan dalam setiap transaksi yang dilakukan.

Seperti saat ke Tunisia dan Maroko pada pertengahan tahun ini. Kemendag yang dipimpin Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, dalam misi dagang ke dua negara Afrika itu, langsung mengupayakan terciptanya kerja sama berupa Preferential Trade Agreement (PTA) dan akhirnya hal itu benar-benar terealisasi.

Walaupun saat ini masih dalam tahap perundingan, itu sudah menjadi capaian positif untuk dapat dilanjutkan dan dituntaskan tahun depan.

Tahun ini, pemerintah telah merampungkan dan menandatangani Indonesia-Palestina PTA dan Indonesia-EFTA (IE) Comprehensive Economic Partnership Agreement. Rampungnya pembahasan IE CEPA merupakan sebuah hasil dari kerja keras yang dilakukan selama kurang lebih delapan tahun.

Enggartiasto kepada Media Indonesia, Rabu, 26 Desember 2018, mengungkapkan tercapainya kesepakatan dengan empat negara anggota EFTA yakni Swiss, Lichtenstein, Norwegia, dan Islandia akan mengangkat nilai dan kepercayaan diri Indonesia dalam perundingan-perundingan bilateral atau multilateral lainnya yang kini masih dibahas.

Ke depannya, Indonesia masih memiliki jadwal untuk menyelesaikan berbagai kerja perjanjian dagang seperti dengan Mozambik, Kenya, Srilanka, Turki, Bangladesh, dan Eurasia.

Adapun, dengan Australia, secara substansial, kerja sama yang dituangkan dalam Indonesia-Australia CEPA sudah rampung dan hanya tinggal ditandatangani saja. Namun, realisasinya masih terganjal isu politik luar negeri yang dipegang kedua belah pihak.

"Isi perjanjiannya sudah lengkap. Legal scrubbing sudah. Translation sudah. Secara mendasar, semua sudah beres, tinggal ditandatangani saja. Itu Kementerian Luar Negeri yang mengatur. Kebijakan politik luar negeri ada di Menteri Luar Negeri. Kita harus ikuti itu," ujar Enggartiasto.

Untuk perjanjian-perjanjian yang telah dicapai, pemerintah akan fokus untuk melakukan sosialiasai kepada seluruh pelaku usaha di Tanah Air sehingga kerja sama yang ada benar-benar dapat dimanfaatkan dengan optimal dan mendongkrak kinerja ekspor.

 


(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi