Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Produk Indonesia Dinilai Kurang Variatif

Ekonomi produk dalam negeri
13 Desember 2017 11:06
Jakarta: Perkembangan industri manufaktur Indonesia dianggap kurang kreatif. Hal itu ditandai minimnya produk baru yang muncul. Padahal untuk menjadi negara yang maju dibutuhkan diversifikasi produk yang beragam.
 
Hal itu disampaikan Direktur Center of International Development Harvard University Ricardo Hausmann, berdasarkan penelitiannya terhadap binding constraint atau halangan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
 
Ricardo mengatakan selama 15 tahun atau periode 2000-2015, produk baru yang muncul di Indonesia hanya empat dengan nilai USD2,6 miliar dan berkontribusi cuma USD10 per kapita. Angka itu, kata dia, jauh jika dibandingkan dengan Thailand dan Vietnam.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di Thailand, kata dia, terdapat 51 produk baru dengan nilai mencapai USD17,4 miliar dan berkontribusi USD260 terhadap PDB. Adapun di Vietnam dengan 51 produk baru, nilainya mencapai USD51,7 miliar dan berkontribusi USD560 terhadap PDB.
 
"Di Indonesia terlalu sedikit produk yang muncul dan berkembang," ujar Ricardo dalam paparan bertajuk Growth Diagnostic A New Approach to National Development Strategies di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa, 12 Desember 2017.
 
Rendahnya diversifikasi produk di Indonesia itu, menurut Ricardo, tidak lain karena sektor manufaktur yang masih terfokus pada tekstil.
 
Ricardo menyebut sektor manufaktur di Indonesia gagal mengembangkan diversifikasi produk dari sisi elektronik dan mesin. Terlebih di beberapa daerah seperti NTT dan Kalimantan, yang masih bergantung pada sumber daya alam.
 
Hal berbeda terjadi di negara yang maju karena manufakturnya. Ia menyebut Korea Selatan yang telah mengembangkan tekstilnya lebih awal kemudian sukses mengembangkan elektronik dan mesin. Begitu pula Thailand dan Tiongkok.
 
"Indonesia gagal mengembangkan manufaktur di sektor elektronik dan terjebak pada tekstil," ucapnya.
 
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro meng-akui ekonomi Indonesia masih tergantung sumber daya alam dan kurang memperhatikan manufaktur. Karena itu, iklim investasi harus diperbaiki sehingga sektor industri meningkat.
 
"Agar pertumbuhan ekonomi bisa mencapai enam persen dan RI menjadi negara maju dalam 20 tahun ke depan," tukas Bambang. (Media Indonesia)
 

 

(AHL)
MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif