Ilustrasi (MI/ARYA MANGGALA)
Ilustrasi (MI/ARYA MANGGALA)

Konsultan: Kekurangan SDM Ahli Dampak dari Era Digitalisasi

Ekonomi ekonomi digital
12 Juli 2019 08:32
Jakarta: Perusahaan konsultan manajemen global Korn Ferry menyatakan fenomena kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ahli dalam bidang tertentu merupakan salah satu dampak dari era digitalisasi yang terus berkembang pesat dari waktu ke waktu.
 
"Lingkungan bisnis Indonesia sedang terdisrupsi dengan tren saat ini yang menuju digitalisasi, sehingga perusahaan perlu mengadaptasi lingkungan bisnis Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity (VUCA)," kata Principal Korn Ferry Indonesia Amanda Ryadi, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Jumat, 12 Juli 2019.
 
Menurut Amanda, dengan perubahan ini terjadi peningkatan permintaan akan sumber daya manusia dengan keterampilan dan kompetensi yang tepat untuk mengisi jabatan pada level manajemen dan level atas untuk mendukung transformasi serta pertumbuhan perusahaan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, lanjutnya, pasokan sumber daya manusia yang ada saat ini tidak memenuhi permintaan karena keterampilan dan kompetensi yang diinginkan dinilai masih langka di Indonesia. Adapun kekurangan sumber daya manusia yang tepat telah mengakibatkan persaingan pada bidang SDM untuk merekrut.
 
"Dan mempertahankan karyawan yang memiliki talenta dan keterampilan yang mumpuni, yang memicu perang remunerasi antar perusahaan," ucapnya.
 
Bahkan, menurut dia, beberapa perusahaan di industri keuangan di Indonesia bersedia menawarkan gaji premium 30 persen atau lebih tinggi untuk mendapatkan sumber daya manusia yang tepat. Perusahaan juga dinilai harus bersaing untuk mendapatkan para manajer senior dengan soft skill yang dibutuhkan.
 
Seperti kecerdasan emosional, pemikiran kreatif, dan kemampuan untuk mengelola tim besar dan kompleks. "Oleh karena itu, gaji di level manajer senior akan naik, dan kemungkinan akan meningkat lebih cepat daripada pekerjaan lain," ungkapnya.
 
Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menilai peningkatan ketimpangan global salah satunya dipicu digitalisasi. "Sebetulnya yang disampaikan dalam beberapa tahun terakhir, ketimpangan itu adalah isu global," kata Bambang.
 
"Ketimpangan yang menjadi isu global itu saya melihat, salah satunya karena sekarang ini sedang ada perubahan mendasar terkait digitalisasi, terkait mulainya revolusi industri 4.0," tambah Bambang.
 
Menurut Bambang, peningkatan ketimpangan dunia karena adanya masa transisi yakni ada sejumlah pihak yang dengan cepat dapat menangkap manfaat dari ekonomi digital maupun revolusi industri, sehingga meningkatkan kekayaan yang dimilikinya.
 
"Seperti kita lihat, di daftar 10 atau 20 orang terkaya di dunia, sekarang didominasi oleh mereka yang terkait dengan digital maupun yang sudah masuk pada revolusi industri tersebut," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif