Wisata geosite Hutan Granit Bukit Peramun, Pulau Belitung. Foto: Medcom.id/Arif Wicaksono.
Wisata geosite Hutan Granit Bukit Peramun, Pulau Belitung. Foto: Medcom.id/Arif Wicaksono.

Perjuangan Bangun Hutan Lindung Menjadi Tempat Wisata

Ekonomi bca
Arif Wicaksono • 11 November 2019 12:32
Belitung: Membangun tempat wisata berbasis lingkungan seperti di geosite Hutan Granit Bukit Peramun, Pulau Belitung tak mudah. Banyak lika-liku yang harus dihadapi dalam mengembangkannya seperti mengikuti tuntutan zaman dan kemauan konsumen. Di sisi lain harus menjaga prinsip keseimbangan alam.
 
Ketua Komunitas Arsel sekaligus penanggung jawab Desa Binaan Bukit Peramun Adie Darmawan mengatakan dalam membangun wisata dari hutan lindung butuh jalan berliku. Dia menjelaskan tempat wisata ini harus tetap dijaga kelestariannya dengan menjadi "paru-paru" di Pulau Belitung, sekaligus menarik pengunjung.
 
Dia kemudian bercerita awalnya belajar mengelola tempat wisata itu dari 2007. Dia membangunnya dengan komunitas pecinta alam di wilayah Bangka Belitung. Komunitas itu yang akan ikut mengelola serta merawat hutan itu.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menarik orang untuk merawat hutan juga tak mudah, karena banyak penduduk di Belitung yang bekerja sebagai penambang timah sehingga mereka cenderung memiliki motivasi untuk mencari keuntungan semata ketimbang merawat lingkungan.
 
"Awalnya tak gampang menumbuhkan kesadaran itu karena Pulau Belitung merupakan daerah yang penambang timah. Mereka memiliki kebiasaan menggali untuk kebutuhan konsumtif," kata dia, Minggu, 11 November 2019.
 
Lambat laun dia mulai belajar cara mengelola hutan seperti memberikan jasa penyerapan air yang didapatkan dari Kementerian Lingkungan Hidup. Kemudian dia mulai belajar cara mengelola tempat wisata sebelum pada akhirnya dibuka pada publik pada 2017.
 
Pada 2017 dia memberikan layanan treking di pegunungan itu serta memberikan paket wisata dengan melihat sosok Mentilin (Tarsius Bancanus Saltator), binatang kecil yang bermata bulat ini pada malam hari. "Kita buka untuk wisata pada Januari 2017. Kita bangun militansi untuk kebangaan warga Bangka dengan slogan Hutan Besar Keluarga Sejahtera," jelas dia.
 
Perjuangan Bangun Hutan Lindung Menjadi Tempat Wisata
 
Taman wisata ini berhasil meraih 28 ribu pengunjung pada 2017. Namun, jumlahnya semakin menurun 15 persen pada 2018. Pada tahun ini jumlahnya semakin berkurang dengan menjadi 20 ribu dalam setahun. Meskipun pengunjungnya semakin turun, desa bukit Peramun mendapatkan Indonesian Sustainable Tourism Awards 2019 dari Kementerian Pariwisata. Dia meyakini bahwa berkurangnya capaian ini karena adanya perawatan lokasi serta perubahan desain awal.
 
"Pada 2018 kita evaluasi paket wisata Tarsius menjadi tiga kali dalam seminggu dari awalnya setiap hari. Kita mungkin hanya bisa menerima 500 orang sebulan tapi pendapatannya bisa sama dengan 1.000 atau 2.000 orang per bulan," ungkap dia.
 
Selain itu, paket wisata yang menjadi unggulan seperti cross country dengan jarak 1,8 kilometer (km) di 12 titik. Sepanjang perjalanan pengunjung bisa melihat kayu yang berumur ratusan tahun, batuan unik , serta lorong granit dalam kawasan hutan yang rindang. Malamnya ada pengamatan Tarsius di malam hari sebanyak tiga kali dalam seminggu.
 
Pada malam hari, pengunjung bisa melihat Tarsius dengan syarat tak boleh memakai foto flash dan hanya 10 menit. Selain itu ada juga sekolah alam yang mengedukasi pengunjung dengan informasi yang diperoleh dari penjaga hutan dengan bantuan QR code di smartphone. Dalam waktu dekat , pengelola akan memberikan Gear Virtual Reality (VR) untuk memberikan pengalaman bagi pengunjung melihat titik yang akan dikunjungi sebelum memilih paket yang ditawarkan.
 
"VR ini akan diberikan sebelum pengunjung memilih paket, ada gambar 360 derajat didalamnya yang memberikan gambaran mengenai tempat yang akan dituju," jelas dia.
 
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Belitung Timur Andriyanto Putra menjelaskan bahwa wilayah bukit Peramun merupakan bukit yang kaya akan oksigen. Oksigen ini muncul karena tekstur batuannya berada dari dalam bumi dengan usia yang cukup tua.
 
Dia menyebut batuan itu bilitonic rocks dan greening granit. Batuan ini merupakan asal muasal dari timah. Banyak manfaat yang bisa didapatkan pengunjung ketika duduk di batuan ini seperti meningkatkan stamina, daya tahan tubuh, dan lain-lain. "Kalau ibu duduk di atas batu ini, badan akan terasa segar. Kemudian batu ini juga bisa sebagai alat untuk menjernihkan air," kata dia.
 
Executive Vice President Corporate Social Responsibility (CSR) BCA Inge Setiawati mengaku tertarik membantu Desa Peramun setelah mendengarkan penjelasan dari tim geopark dari ITB. Dia menjelaskan bahwa daerah Belitung kaya akan alam dan potensi wisata yang belum dikembangkan. "Kami lihat kaya sekali daerah ini, dan Belitung tak hanya pantai, (yang bisa dikembangkan)," kata dia.
 
Inge menjelaskan bahwa selama dua tahun BCA fokus kepada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) kepada penjaga hutan wisata Parimun untuk bisa melayani turis dengan layanan prima. BCA juga melakukan training pelayanan secara bertingkat. Pengelola juga diberikan kemampuan mengelola keuangan dan manajerial untuk menjadi pemimpin yang baik di kawasan wisata itu.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif